Kopi Bali adalah Simbol Kebhinekaan dan Perjuangan Kesetaraan

Jumat, 09 Februari 2018 : 07.00
ilustrasi
*Dr. H. Arya Sandhiyudha

Salah satu urgensi 'Jas Merah' pesan Bung Karno adalah Kita dapat menghayati apa saja sumber utama kekuatan dalam perjuangan membangun negara-bangsa kita. Diantaranya adalah kebhinekaan.

Sebaliknya, urgensi kebhinekaan bagi kekuatan itu akan sirna dari keyakinan apabila orang-orang melupakan sejarah.

Kunci kekuatan pertama, kebhinekaan yang SOLID
Menyambung serial kebangsaan nomor 08 tentang Buleleng sebagai salah satu simbol "ibukota" kebhinekaan. Termasuk peran kebhinekaan dalam perlawanan.

Sejak tahun 1825 I Gusti Ketut Jelantik memimpin perlawanan sengit terhadap serangan Belanda, baik serangan awal di tahun 1846, kemudian 1848 menghadapi serangan ke-2 dari laut terhadap Benteng Jagaraga, serangan ke-3 setelah Belanda menghancurkan benteng Jagaraga di tahun 1849, hingga akhirnya Buleleng berada di bawah pemerintah penjajah Belanda.

Menariknya, selama beberapa dekade Raja Buleleng kerap menggunakan baju Bugis (foto 1, tahun 1865). Itu untuk selalu memberi pesan bahwa Kebhinekaan adalah kunci kekuatan dalam menghadapi ragam penjajahan ini.

Kunci kekuatan kedua, pemberdayaan pada rakyat ALIT yang diperbudak

Di bawah pemerintah penjajah Belanda, ekspor utama Bali adalah budak! Perbudakan baru berakhir dimulai dengan kopi!. Sebab itulah kopi di Bali punya nilai sejarah tersendiri. Ia menjadi simbol kebhinekaan sekaligus penanda perlawanan mengusung cita-cita kesetaraan hak.

Beda dng sejarah kopi di Sumatera dan Jawa, perkebunan kopi di Bali, bukan dipelopori oleh pemerintah penjajah Belanda. Pada mulainya adalah para pedagang dari Lombok yang membawa bibit kopi ke Bali di paruh abad 19.

Jadi, dibandingkan dengan daerah lain, perkebunan kopi di Bali termasuk yang paling muda, memang. Jenis kopi yang dibawa oleh para pedagang dari Lombok ke Bali pada masa itu adalah Robusta, yang tahan hama dan mempunyai kadar kafein yang tinggi.

(Foto 2, Keluarga petani kopi di sekitar gunung Batur, Bali, circa 1915). Mulai digencarkannya ekspor kopi bersamaan dengan hadirnya larangan jual-beli budak. Kopi adalah substitusi dari perbudakan.

Bagaimanapun, lantas transformasi ini mengganggu aktivitas VOC sebagai pemerintah penjajah yang menikmati ekonomi dari kejahatan transnasional jual beli manusia ( _human trafficking_) tsb.

Ada faktor alam yang juga membuat para pedagang Lombok hadir ke Bali. Kesuburan tanah vulkanis dan iklim di daerah Kintamani memang sangat ideal untuk pertumbuhan kopi.

Gelombang pedagang Lombok ke Bali juga sebagiannya berawal dari motif sosial, karena meletusnya gunung Tambora di Sumbawa yang berdampak hingga ke Bali. April 1815 terdapat ± 25 ribu orang Bali meninggal karena letusan.

Abu setebal 20 cm menyelimuti sebagian pulau Bali. Merusak persawahan. Panen gagal. Kelaparan melanda. Wabah penyakit mengikuti kemudian. Namun, bersama kesulitan ada kemudahan. Amukan Tambora pun membawa nikmat: kesuburan tanah. Dalam 2 dekade, Bali menjadi eksportir hasil bumi: beras, kopi pun indigo.

Masa inilah beras dan kopi jadi komoditas penting. Dimulai lah poros ekonomi Bali - Singapura yang mulanya berbasis _"slave-for-opium"_ berubah. Bali-Singapura lalu dikenal jadi poros _"rice-for-opium"_, _"coffee-for-opium"_.

Bermula dari situlah Bali, terutama wilayah tengah-utara Bali, berselimut kebun kopi.

(foto 3, kebun di Munduk, Singaraja, 1920).

Jadi dibalik kisah Daerah Kintamani yang terletak di utara Pulau Bali saat ini yang merupakan penghasil kopi yang utama di Bali, baik Robusta ataupun Arabika. Terdapat makna penting yang dapat menghidup-hidupkan lagi suluh kebangsaan kita.

Kini kita boleh bangga, bahwa pada tahun 2008 Kopi Bali yang berasal dari Kintamani ini mendapat sertifikat _Geographical Indication_ (GI) secara resmi, yang artinya kopi Bali sudah memenuhi kualitas internasional.

Semua kebanggaan yang pada mulanya adalah jerih payah menyatukan kekuatan kebhinekaan dan memupuk spirit perjuangan kesetaraan (*)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi