Benarkah, Alat Musik Mandolin Bisa Mendatangkan Hujan?

Rabu, 14 Februari 2018 : 21.25
Mandolin, alat musik khas dari Desa Pupuan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali
TABANAN - Mandolin, alat musik petik sejenis Kecapi yang ada di Desa Pupuan, Kecamatan Puapuan, Kabupaten Tabanan, Bali, dipercaya dan diyakini bisa mengundang dan mendatangkan hujan.

Keyakinan tersebut diungkapkan Ajik Kobar dari Even Organizer e-Production saat melaunching Song Single Full Moon Githa Bhaskara Etnik di Warung Be Jawa, Tabanan, Rabu (14/2/2018).

"Saya sudah buktikan beberapa kali, setiap kali mementaskan musik Mandolin pasti selalu turun hujan seperti saat Pesta Kesenian Bali, Tanah Lot Festival, Hut Kota Tabanan dan di beberapa tempat lagi meski saat itu musim kemarau," paparnya.

Menurut Ajik Kobar, keyakinan dirinya semakin kuat dan mempercayai alat musik Mandolin bisa mengundang hujan saat akan dipentaskan dalam acara launching di Warung Jawa yang ternyata juga turun hujan.

"Sekarang saat akan dipentaskan juga turun hujan meski hanya sebentar saja hujannya. Percaya tidak percaya, alat musik Mandolin dari Pupuan ini memang bisa mengundang hujan," katanya serius.

Turah Manik (paling kiri) dan Ajik Kobar (paling kanan) bersama personil Gita Bhaskara Etnik
Sementara itu, Manajer e-Production, Anak Agung Ngurah Gede Arya Tenaya yang populer dipanggil dengan nama Turah Manik mengungkapkan, mandolin yang ada di Desa Pupuan dulunya merupakan alat musik Cina yang ditinggalkan pada masa penjajahan Jepang.

"Pada tahun 1930-an mandolin dibawa seorang warga Tionghoa yang merupakan teman dari almarhum I Ketut Latra alias Pan Sekar, warga Desa Pupuan," katanya.

Menurut Manik, mandolin yang dibawa warga Tionghoa saat itu adalah alat musik sejenis kecapi. Bentuknya bukan seperti mandolin yang sekarang ini, karena mandolin tersebut sudah dimodifikasi dan diubah bentuknya oleh almarhum Ketut Lastra.

Kata Mandolin sendiri berasal dari kata Mandarin yang lama kelamaan berubah cara pengucapannya menjadi mandolin, karena alat musik ini sangat cocok dan seringkali membawakan melodi-melodi bernuansa mandarin.

"Seiring perkembangan jaman, anak keturunan Pan Sekar akhirnya memodifikasi mandolin lagi menjadi alat musik yang tidak hanya memainkan nada-nada mandarin saja, tetapi nada-nada yang lebih luas mulai klasik, pop sampai dangdut," paparnya.

I Made Gde Widiartawan, salah seorang personil grup Gita Bhaskara Etnik menambahkan, alat musik mandolin yang diperkenalkan tahun 1930-an, sepeninggalan Pan Sekar pada tahun 1991 sudah terkubur tidak pernah dimainkan lagi.

Namun lambat laun kembali bangkit tampil pada kegiatan upacara keagamaan di pura, rumah penduduk dan wihara di Pupuan. Sesekali tampil di luar Pupuan di acara Pesta Kesenian Bali dan even kecil lainnya.

"Mudah-mudahan dengan dilaunchingnya Song Single Full Moon Githa Bhaskara Etnik ini dan di bawah manajemen e-Proc\duction, musik mandolin bisa lebih berkiprah di blantika musik Indonesia. Sama seperti musik etnik lainnya yang sudah dikenal masyarakat luas," katanya berharap. (gus)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi