Bank Indonesia Dorong Pengembangan Coklat di Tabanan dan Jembrana

Minggu, 11 Februari 2018 : 20.37
Deputi Direktur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Azka Subhan
YOGYAKARTA - Bank Indonesia terus memberikan perhatian kepada para petani kakao atau coklat di Kabupaten Jembrana dan Tabanan agar bisa berkembang dalam meningkatkan produksi dan kualitas sehingga nantinya bisa menopang perekonomian setempat.

Deputi Direktur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Azka Subhan,menuturkan, saat ini yang tengah menjadi fokus dalam membantu pengusaha UKM di Bali adalah pengembangan buah coklat.

"Setelah kita pelajari, ketemu pada komoditas coklat, nanti kami akan kembangkan kegiatan penelitian komoditas produk dan jenis unggulan produk berbasis UKM," tega Azka di sela Lokakarya Kehumasan dan Kebanksentralan di Yogyakarta 9-11 Februari 2018.

Sejauh ini, yang menjadi prioritas atau sentuhan Bank Indonesia pada komoditas coklat seperti di Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana. Di wilayah itu, terdapat Koperasi Kerta Semaya yang sudah mampu berproduksi biji coklat dengan kriteria ekspor dengan kualitas baik.

Hanya saja, produksi yang ada masih sebatas pada fermentasi, belum sampai pada proses produksi biji coklat karena keterbatasan kendala alat produksi mesin.

"Karena itu, kami mencoba melompat dahulu dengan melihat model petani coklat di Nglanggeran Kabupaten Gunung Kidul, yang memanfaatkan teknologi tepat guna," tandas Azka dalam kegiatan yang melibatkan 25 jurnalis media elektronik, cetak dan online di Bali.

Suatu saat, diharapkan, koperasi petani coklat di Bali bisa lebih meningkatkan kapasitas produksinya menjadi lebih besar. Sedangkan di sisi lain, pihaknya mendorong agar nantinya petani lewat koperasi yang dibentuk itu, secara industri bisa membuat mesin yang bisa memproduksi powder coklat.

"Kami sudah bertemu pengurus koperasi, setelah kami pelajari seksama, untuk bisa meningkatkan kualitas biji satu-satunya harus mendapatkan kualitas biji bagus dan pengelolaan yang bagus pula," sambungnya.

Di pihak lain, BI, selama ini juga mendorong penggunaan pupuk organik sehingga ke depan akan dicoba sebagaimana telah diujicobakan untuk tanaman padi,bawang agar dari sisi produktivitas meningkat lebih bagus.

Penggunaan pupuk organik pada lahan-lahan yang selama ini menggunakan pupuk kimiwai diharapkan bertahap bisa beralih ke pupuk organik.

Dari pengamatan dilakukan, beberapa subak di Kecamatan Melaya, sudah menghasilkan biji coklat dan menyetor ke koperasi dan dilakukan pengeringan baik menggunakan mesin solar drier

Selain itu, untuk permentasi coklat haruslah menghasilkan kualitas bagus. Dari 40 subak yang ada, baru 16 yang sudah melakukan proses pengerngan itu sederhana. Sedangkan untuk pembentukan biji permentasi masih dalam skala kecil.

Baru sebagian kecil koperasi yang ada di Tabanan dan Jembrana yang memiliki unit usaha yang mengolah biji coklat untuk disortir secara manual selama seminggu. Nantinya, dengan penggunaan mesin pengeringan, bisa memangkas waktu cukup dua jam.

"Kami nanti akan bantu untuk pengadaan alat mesin itu. Kemudian kami akan bawa perwakilan petani coklat di Bali untuk belajar dan melihat langsung bagaimana usaha petani coklat di Nglanggeran, Yogyakarta" sambungnya.

Mereka nantinya bisa saja menerapkan mengaplikasikan program atau upaya-upaya yang dilakukan petani Coklat di Gunung Kidul.

"Yang bagus-bagus bisa dicopi-paste, impiannya kami bisa mendorong lahirnya desa wisata di Melaya yang salah satunya ditopang oleh petani coklat, kira-kira begitu, kita tidak tahu kapan bisa terealisasi, harapannya bisa segera terwujud," tandas Azka. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi