Adhyaksa Harapkan Musibah Guru Budi di Madura Tak Terulang

Senin, 05 Februari 2018 : 00.30
JAKARTA - Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault menyesalkan insiden menimpa Ahmad Budi Cahyono, guru SMAN 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur yang meninggal dunia karena dianiaya siswanya.

Untuk itu, dia mengajak semua pihak mendiskusikan serta merumuskan solusi jangka panjang untuk menjamin kejadian serupa tidak terulang. Adhyaksa mengatakan, sekarang banyak sekali berbagai masukan yang sangat bagus dari individu dan berbagai pihak.

Semuanya dapat ditonton di TV, dibaca di media, media sosial maupun yang menyebar lewat berbagai aplikasi percakapan online. Semuanya bersedih dan tidak ingin hal serupa terjadi di masa yang akan datang.

"Kita perlu bersama-sama mencari, memahami akar persoalan, mengetahui apa yang dibaca siswa, apa yang ditonton oleh siswa-siswa kita, pergaulannya sehari-sehari, film-film baik produksi dari luar maupun dari dalam yang berisi kekerasan atau inspirasi untuk melakukan kekerasan," katanya di Jakarta, Sabtu (3/2/2018).

Sampai saat ini, dia tidak percaya ada seorang murid di Indonesia yang melakukan perbuatan terkutuk terhadap gurunya sendiri.

"Ini sangat bertentangan dengan hati nurani semua orang di dunia. Karena itu, kita perlu mendiskusikan lebih serius, lebih lama agar lahir solusi dan rekomendasi yang menjamin kejadian yang sangat menyedihkan ini tidak terulang," ucapnya.

Peristiwa memilukan ini bukan kali ini saja. Sebelumnya, seorang guru di Sulawesi Selatan dianiaya oleh siswa dan orang tua siswa tersebut. Bahkan, ada juga anak menganiaya hingga membunuh orangtua kandungnya.

“Sejak kecil kita diajarkan, jangankan memukul apalagi membunuh, berkata “ah” atau membantah saja sudah dosa besar bagi seorang anak. Hal-hal yang mustahil terjadi dan tidak kita perkirakan sekarang bisa terjadi,” tuturnya.

Dari informasi yang dia dapatkan, Budi Cahyono, sosok guru yang baik. Berkemampuan di bidang seni banyak sekali, ia mampu melukis, memainkan berbagai alat musik dan mengajarkan dengan penuh kesabaran kepada murid-muridnya.

Almrahum guru honorer dengan gaji tergolong rendah, namun tetap semangat dan ikhlas mengajar. Sekali lagi kita harus memberikan jaminan agar guru-guru kita dapat mengajar dengan tenang dan aman.

"Kejadian menyedihkan ini tidak boleh terulang. Mari bersama kita rumuskan solusi jangka panjang," harapnya. (des).

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi