PLN Pastikan Proyek Jawa Bali Crossing untuk Dukung Kemandirian Energi

Rabu, 24 Januari 2018 : 07.20
Proyek Jawa Bali Crossing berkapasitas 500 kilo volt (kv)
DENPASAR - PLN memastikan mega proyek Jawa Bali Crossing atau interkoneksi jaringan listrik Jawa Bali akan menjadi solusi bagi ketersediaan energi dan kebutuhan listrik di Bali pada masa mendatang yang terus meningkat.

General Manager PLN (Persero) Distribusi Bali Nyoman S. Astawa mengungkapkan, proyek yang bersumber dana asing hingga USD 400 Juta itu akan mulai dikerjakan tahun 2019. Gagasan Jawa Bali Crossing (JBC) berkapasitas 500 Kilo Volt (KV) itu, sejatinya sudah disosialisasikan sejak tahun 2014.

Setelah lewat studi dan kajian matang, kemudian mendapat izin dari pihak atau instansi berwenang ditambah dengan kesiapan dana cukup besar dari asing itu, maka kini tinggal menunggu pelaksanannya.

Diakui Astawa, belakangan ada suara atau seperti dari sikap Parisada Hindhu Dharma Indonesia (PHDI) Bali yang menolak rencana pembangunan proyek PLN itu, dengan dalih bertentangan ketinggian dan jarak bishama dengan tower atau infrastruktur PLN.

"Kami sebenarnya ingin mendapatkan penjelasan, kalau sudah ada bhisama, dahulu tidak boleh jaraknya 350 meter, kemudian kami geser 50 meter, kalau itu acuannya, oke mana saja yang tidak boleh," ucap Astawa.

Kemudian, dilakukan studi menggeser lokasi tower, sampai dua kilometer. Yang dikhawatirkan, setelah PLN melakukan studi, jarak dan lokasi disesuaikan aturan Bhisama, kemudian tetap tidak boleh dibangun, dengan dalih sebenarnya bukan masalah teknis.

"Yang terakhir, katanya ini bukan masalah teknis, bukan boleh digeser atau tidak tetapi disampaikan bahwa Bali Crossing itu tidak boleh," katanya saat jumpa media di Kubu Kopi Denpasar, Selasa (23/1/2018).

Astawa mempertanyakan balik, jika demikian, lantas untuk energi primer apakah tidak boleh untuk mandiri. Jika tidak, maka sudah barang tentu Bali, akan mengambil atau mendatangkan batubara dari luar atau asing.

Lantas, bagaimana dengan visi Bali yang Clean and Green itu. Apa yang disampaikannya, bukan berarti menghadapkan-hadapkan PLN dan PHDI, tetapi lebih pada upaya untuk mendapatkan penjelasan, terkait lokasi di mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dibangun tower.

Pada bagian lain, dijelaskan jika masalahnya jangan ada saluran udara Jawa dan Bali, PLN bisa saja mencari alternatif lain. Tentunya, dengan konsekuensi dilakukan kajian kembali, dari sisi biaya atau investasi jauh lebih tidak efisien, jika sistem interkoneksi atau Bali Crossing ini tidak disetujui.

Dia menegaskan, dengan tambahan pasokan daya listrik kapasitas 500 KV yang akan disiapkan, sudah tentu juga akan mendukung dan dibutuhkan untuk mencari sumber-sumber energi baru dan terbarukan seperti yang dirintis di Kabupaten Jembrana.

Pasalnya, energi alternetif baru dan terbarukan yang kini dalam proses di Kabupaten Jembrana itu, tetap membutuhkan transmisi yang akan disiapkan oleh PLN lewat Jawa Bali Crossing.

Mengingat kebutuhan listrik masih banyak di Bali Selatan sehingga ketersambungan atau interkoneksi pembangkit listrik juga akan berada mendekati beban, mulai Gilimamuk (Jembrana) sampai Antosari (Tabanan).

Dengan demikian, akan lebih efisien dari sisi biaya untuk penyiapan infrastrukur PLN di mana total nantinya akan dibangun total dari Jawa Timur sampai Bali sebanyak 514 tower. Bentangan kabel sepanjang 2,68 kilometer dan ketinggian tower mencapai 80 meter sampai 370 meter.

"Jika ada keberatan, nantinya akan kami sampaikan ke pusat," tandasnya sembari menambahkan jika Jalur-jalur untuk pemasangan kabel dan pembangunan tower, berada tak jauh dari jalur 150KV yang sudah ada dari Gilimanuk sampai Antosari. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi