Inflasi 3,22 Persen, Bali Masih Menarik untuk Kegiatan Investasi

Jumat, 12 Januari 2018 : 21.11
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana (tengah) saat bincang dengan media
DENPASAR - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana menegaskan meski saat ini ada erupsi Gunung Agung yang mempengaruhi penurunan sektor pariwisata namun Bali tetap menarik untuk kegiatan invetasi karena inflasi yang terjadi 3,33 persen cukup terkendali.

Iman menyampaikan hal itu, saat bincang bareng dengan media di Kantor BI Perwakilan Bali, Renon, Denpasar, Jumat (12/1/2018).

Dari data yang dihimpun BI, inflasi yang terjadi di Bali pada akhir 2017 itu masih lebih rendah dari inflasi nasional. Secara keseluruhan, dipengaruhi diantaranya oleh kelompok makanan termasuk beras.

JIka dicermati, memang inflasi yang terjadi kali ini, lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu. Jadi, inflasi itu dari perbankan yang merupakan funademntalnya dari Bali.

Meski demikian, jika angka inflasi di bawah atau kisaran 3 atau 2 persen, tentunya tidak menarik untuk investasi. Dengan demikian, inflasi 3,22 persen di Bali itu, menurut pandangan Iman, cukup baik masih dalam sasaran antara 3 atau 4 plus minus 1.

Lebih lanjut, Iman menambahkan, salah satu kelompok bahan makanan seperti beras juga memiliki andil terjadinya inflasi. Mengingat, beras menjadi isu nasional namun meski inflasi mengalami tekanan dari beras ternyata, inflasi di Bali masih aman.

Jumlah inflasi itu, masih di bawah angka inflasi nasional sebesar 3,61 persen. Pendek kata, inflasi di Bali, masih terkendali. Selain mencatat inflasi yang terkendali, Iman menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Bali cukup positf hingga awal-awal tahun ke depan.

"Bali tetap menarik untuk invetasi," kata Iman menegaskan. Pihaknya, juga telah melakukan berbagai kegiatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Bali serta telah merancang kegiatan di tahun 2018 ini.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan seperti sosialisasi dan pelatihan-pelatihan kepada eksternal stakeholder seperti asistensi pelaporan transaksi money changer bukan bank dan lainnya.

Dalam pelatihan transaksi keuangan bukan bank, bekerja sama dengan PPATK sebagai antisipasi terhadap tindak kejahatan pelaku yang biasa melakukan pencucian uang. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi