Catatan Defiyan Cori: Moralitas Kemajuan Ekonomi Jepang

Senin, 22 Januari 2018 : 10.15
Ekonom Konstitusi Defiyan Cori
JEPANG adalah negara dengan kemajuan ekonomi yang sangat luar biasa setelah diporak-porandakan oleh bom atom yang dahsyat yang dialami 2 (dua) kotanya, Hiroshima dan Nagasaki pada Tahun 1945. Jepang luluh lantak negerinya dan hancur ekonominya, kehidupan masyarakat secara psikologis terganggu, ketakutan akan ancaman menyebar luas.

Tapi, Jepang bangkit dengan cepat dan tanggap untuk masa depan yang lebih baik, mereka ambil pelajaran yang baik, dan buang jauh-jauh yang buruk. Kepemimpinan yang kuat dan menginspirasi menjadi modal utama mereka, tentu juga disertai semangat budaya mereka, BUSHIDO!

Namun, kami tak akan bercerita soal bagaimana Jepang bangkit dan mengalami kemajuan di bidang ekonomi. Kami ingin menceritakan sekelumit pengalaman bernilai budaya di atas kemajuan peradaban negara Jepang tersebut.

Pada suatu ketika di bulan Juli tahun 1994, kami berkesempatan.mengunjungi Jepang untuk pertama kialinya. Cerita ini hanya soal sederhana saja.

Pada saat berada di Jepang, ada masanya dimana rombongan yang mengikuti program berkesempatan mengikuti acara bebas dan biasanya orang-orang akan berkeliling di pusat kota yang ramai dan padat serta berbelanja.

Saat itu kami sebenarnya ingin pergi ke Islamic Centre, namun karena sebagian besar ingin jalan-jalan dan belanja, maka kami juga turut serta. Kami punya cerita lain soal keamanan milik pribadi orang lain di Jepang.

Dalam perjalanan ke stasiun sub way (KRL kalau di Jakarta) barang elektronik (camera dll) yang baru saya beli di kawasan pasar elektronik terkenal di Jepang, yaitu Akihabara tertinggal di jalanan.

Barang itu tertinggal, setelah kami berhenti sejenak dan teman lain memotret dengan kameranya, saya taruh tas jinjingan yang berisi kamera.

Saya lupa baru saja berbelanja, lalu pergi ke stasiun bawah tanah yang sangat rapi, bersih dan tertata di bawah tanah. Setelah sampai di stasiun, saya baru teringat bahwa ada belanja yang ketinggalan (mungkin sekitar 15 menit an), lalu saya balik lagi ke lokasi tadi.

Apa yang terjadi? Subhanalloh! Barang tadi tak beranjak dari tempat keramaian orang banyak yang berlalu lalang. Cerita yang sama juga terjadi untuk kedua kalinya, kamera yang baru saya beli inipun tertinggal lagi saat hendak bepergian dari Tokyo ke Hiroshima waktu hendak berangkat dari Hotel Keio, Tokyo.

Dalam kereta api Shinkanzen (kereta cepat jarak jauh di Jepang) baru teringat bahwa kamera saya tertinggal di lobby hotel. Selama 3 (hari) kami dan rombongan di Hiroshima, Nara dan Osaka lalu kembali lagi ke Hotel, tak disangka kamera yang tertinggal juga masih ada.

Subhanalloh, culture shock yang kami alami selama ada program di Jepang betul-betul membuat kami (teman-teman lain ada juga yang mengalami kasus hampir sama) merasa malu membahas soal ISLAM.

Mereka tidak terlalu pandai berfilsafat tentang agama dan selalu "merasa pusing" jika diajak diskusi soal Tuhan, namun nilai-nilai Islam dan Ketuhanan mereka aplikasikan atau praktekkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Masyarakat Jepang tak mengenal Agama, tapi kehidupan mereka sangat bernilai agama. Saudaraku sebangsa dan se tanah air, marilah kita mengambil pelajaran dari sekelumit cerita ini, marilah mulai kita praktekkan nilai-nilai agama kita dan Pancasila dalam bernegara. Semoga cerita ini bermanfaat. (*)

* Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi