Banyak Pengusaha Bus AKAP Jalur Bali Berguguran, Ini Penyebabnya

Jumat, 19 Januari 2018 : 06.46
Ratusan pengurus, sopir AKAP berunjuk rasa di Dinas Perhubungan Provinsi Bali
DENPASAR - Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali Ketut Eddy Dharma Putra mengungkapkan banyak perusahaan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) sudah tidak beroperasi ke Bali karena terus merugi akibat jumlah penumpang yang mengalami penurunan.

Salah satu yang membuat pendapatan turun, karena mereka tidak mendapatkan penumpang di Terminal Mengwi pasca kebijakan pemerintah yang tidak mengizinkan bus AKAP untuk masuk ke Terminal Ubung.

Selain itu, banyak angkutan Antar Jemput Antar Provinsi (AJAB) yang beroperasi secara ilegal seperti di sekitar Jalan Pidada.

"Ini juga sudah berjalan cukup lama, sehingga tergeruslah pendapatan AKAP yang resmi. Jadi kita merasa terus terkecoh dengan suplai penumpang yang hari demi hari terjadi penurunan penumpangnya," imbuh Eddy.

Eddy menyebutkan penurunan penumpang AKAP juga menyebabkan Bus Jawa Indah sudah tidak beroperasi, karena tidak dapat penumpang.

"Itu laporannya saat demo, ada 4 anggota paguyuban dikeluarkan oleh Perusahaan Oto (PO) Bus, tapi tidak disebutkan nama perusahaannya apa, yang disebutkan hanya Bus Jawa Indah tidak jalan," imbuhnya.

Ia menjelaskan, awalnya jumlah PO Bus yang beroperasi di Bali dari 62 perusahaan, terus gulung tikar sampai sekarang hanya ada 30 perusahaan PO Bus, karena sebagian berguguran dan banyak yang bangkrut.

"Jadi, karena tidak ada aliran penumpang pendapatan paguyuban juga menurun," tambah Dirut PT Restu Mulya Mandiri itu.

Selain itu, angkutan dari Terminal Ubung ke Terminal Mengwi juga dianggap transportasi mahal. Apalagi calon penumpang sebagian buruh dan kelas menengah ke bawah, sehingga cenderung memakai angkutan ilegal seperti AJAB tersebut.

"Nah karena itulah, banyak perusahaan bus AKAP yang bangkrut," jelasnya. Tidak adanya konekting angkutan dari Terminal Mengwi yang mendistribusikan penumpang AKAP, juga turut menjadi andil turunnya jumlah penumpang.

"Baru ada dari jam 9 pagi sampai 5 sore ada angkutan Sarbagita. Sementara diluar jam itu hanya ada angkutan sewa borongan dan taksi saja, sehingga diangkap biaya angkutan mahal," bebernya.

Sebelumnya, pengurus Paguyuban Oto Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Bali berunjuk rasa meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali membuka kembali rute masuk ke Terminal Ubung.

Para pengurus Otobus AKAP mengingatkan tuntutannya sebelum operasional dari Terminal Mengwi memadai, agar bus AKAP diberi kesempatan kembali masuk ke Terminal Ubung secara langsung, sehingga tidak kalah bersaing karena tidak dapat penumpang di Terminal Mengwi. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi