Petani Cabai di Buleleng Keluhkan Anjloknya Harga

Rabu, 11 Oktober 2017 : 09.23
BULELENG - Para petani yang menanam cabai besar dan kecil dari bulan April hingga ke bulan November 2017 mengeluhkan anjloknya harga cabai di pasaran diduga akibat permainan tengkulak.

Salah seorang petani cabe besar jenis Lombok asal desa Panji Anom Buleleng Komang Suar (31) mengatakan harga cabai yang naik Rp8000 per kg kini menjadi Rp 6000 per kg.

Kata Suar, jika dihitung biaya dari awal pemeliharaan dengan jumlah lahan seluas ini sudah jauh merugi.

Tak dipetik malah rugi lihat saja cabenya sudah pada kering dipohon, yang bisa saya petik ya jual saja dari pada tidak dapat hasilnya disamping itu cabe dari luar Bali juga banyak dipasaran.

"Ini kalau dipetik semuanya paling hanya modal saja kembali,tapi kalau menunggu bulan 1 terlalu lama dan cabe sudah habis emang disana ada peningatan harga seperti dulu”ujar Suar belum lama ini.

Kendala saat penanaman di lapangan terkadang diserang hama dan tingkat kepanasan cuaca terlalu tinggi. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Suparto mengatakan pihaknya rutin melakukan pengawasan dilapangan biar harga cabai.

Pihaknya melakukan monitor harga di pasaran dan kita lakukan setiap minggu sekali agar jangan sampai harga dipasar terlalu tinggi. Adanya pasokan cabai dari luar pulau Bali maupun dari lokal bisa juga menjadi penyebab turunya harga, jadi masyarakat bisa menjangkau dalam pembelian.

Dampaknya dilihat dari sisi komsumen itu bagus, tetapi dari segi pedagang relatif tetapi sekarang masih bisa dijangkau. Sementara keluhan dari petani sendiri terkait penurunan harga belum diterima.

"Untuk pasaran saat ini masih terus dipantau kisaran harga Rp 18.000 dan 20.000 untuk cabai kriting," jelas Suparto. (gde)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi