Pernah Jadi Pengungsi Gunung Agung, Sudirta Puji Menyama Braya Semeton Bali

Selasa, 03 Oktober 2017 : 06.43
Gunung Agung Karangasem/foto:bpbd bali
KARANGASEM - Relawan KORdEM (Koalisi Organisasi Sosial dan Eksponen Masyarakat Bali) Peduli Gunung Agung (Relawan KPGA) bersama pendiri Koalisi beberapa Orsos dan LSM tersebut, Wayan Sudirta, menyambangi ribuan pengungsi Karangasem di 11 titik pengungsian.

Sudirta dan rombongan mendatangi di GOR Suwecapura Klungkung, beberapa lokasi di Kecamatan Rendang, Sidemen, Bebandem dan Abang.

Dalam kunjungan sehari penuh itu Sudirta menyerahkan total 30.528 sabun mandi kepada 15.132 jiwa pengungsi, masing-masing dialokasikan 2 biji dan didistribusikan melalui Koordinator Pengungsi bekerjasama dengan Relawan lain di lokasi pengungsian.

Koordinator Relawan KPGA, Putu Wirata Dwikora menyatakan, KORdEM telah membeli sabun mandi seharga Rp 76.320.000,-, seluruhnya swadaya KORdEM.

Tiap kali turun di lokasi pengungsian, Sudirta disambut hangat pengungsi, apalagi anak-anak sekolah yang diberi dorongan semangat, walaupun di pengungsian, harus tetap semangat untuk belajar, apalagi pemerintah telah menyalurkan dengan baik anak-anak sekolah ke sekolah terdekat.

"Saya pernah jadi pengungsi, waktu Gunung Agung meletus tahun 1963. Waktu itu keadaannya serba kurang. Sekarang ini beda, semangat menyamabraya semeton Bali luar biasa," ucapnya.

"Krama Banjar menerima pengungsi di Bale-bale Banjar, yang lain mengirim sembako dan sayur mayur ke lokasi pengungsian, dan luar biasanya stoknya melimpah," kata Sudirta.

Untuk itu, dia megingatkan, para orangtua pengungsi pertama-tama harus mengutamakan keselamatan nyawa. Sudirta juga berbagi cerita, ketika selama mengungsi tahun 1963 itu, ibunya Ni Luh Ronce yang kini sudah almarhum menasihatkan, Sudirta harus sekolah apapun kondisinya.

Karena sepertinya almarhum yakin pendidikan lah yang akan menjawab berbagai masalah kehidupan. Ucapan ibunya ternyata benar, karena sebagian besar dari saudara Sudirta yang berjumlah 24 orang itu, berhasil memperbaiki kehidupan keluarganya.

"Kalau perlu menengok ternak yang tertinggal, cukup yang laki-laki saja dan jangan lama-lama.Segera balik ke lokasi pengungsian. Karena kita tidak pernah tahu kapan gunungnya meletus. Kalau nyawa sudah selamat, harta bisa dicari lagi," jelas Sudirta.

Nasihat Sudirta itu membuat anak-anak sekolah sangat antusias dan berebutan menyalami senator Bali dua periode di Senayan tersebut. Beberapa bahkan minta selfie dengan lelaki yang juga advokat senior tersebut.

Koordinator Relawan KPGA, Putu Wirata Dwikora menambahkan, Relawan telah dilengkapi struktur dari provinsi Bali, Kabupaten-kabupaten dan khusus di Karangasem dibentuk sampai Kecamatan dan Desa.

Adapun programnya, selain menyampaikan sumbangan barang, Relawan KPAG siap melakukan pemberdayaan warga yang mengungsi, memfasilitasi dan menginformasikan hal yang perlu ke pihak yang berwenang, serta mendampingi penyampaian sumbangan donatur yang perlu didampingi, karena Relawan KPAG tidak mengumpulkan sumbangan.

"Kami siap mendampingi penyalurannya, agar para donatur bisa bertemu langsung dengan warga yang membutuhkan, selain untuk transparansi juga untuk menumbuhkan semangat persaudaraan diantara masyarakat," imbuh Putu Wirata.

Selama berkunjung di lokasi pengungsian, ada ratusan anak-anak sekolah yang akan sangat senang bila ada donatur menyerahan buku tulis, pelatihan menggambar, dan lain-lain. (gek)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi