Bisnis Penukaran Valas di Bali Tak Terganggu Transaksi NonTunai

Selasa, 03 Oktober 2017 : 09.05
Direktur Utama PT Dirgahayu Valuta Utama Gede Ngurah Ambara Putra
DENPASAR - Seiring gencarnya Bank Indonesia dalam mensosialisasikan pembayaran atau transaksi nontunai kepada masyarakat sejauh ini hal tersebut tidak sampai berdampak signifikan bagi bisnis penukaran valuta asing (Valas) di Bali.

Menurut Direktur Utama PT Dirgahayu Valuta Utama Gede Ngurah Ambara Putra, sampai saat ini, aktivitas penukaran uang valuta asing tetap berjalan lancar. Beberapa kantor cabang dan penjualan Valas, tidak secara signifikan merasakan dampak penggunaan nontunai khususnya bagi wisatawan asing.

"Saya kira, uang kuartal masih sangat diperlukan, sebab tetap saja elektronifikasi mengalami masalah seperti kemacetan dalam gardu atau tempat-tempat pelayanan lainnya," jelas Putra dalam perbincangan dengan media baru-baru ini.

Sejatinya, jauh hari sebelum ramainya penggunaan transaksi nontunai atau emoney, bisis penukuran uang valuta asing ke rupiah atau sebaliknya, juga dikhawatirkan akan terdampak dengan hadirnya kredit card atau kartu kredit.

Nyatanya, sampai saat ini, masih cukup banyak wisatawan asing yang memilih datang ke pedagang Valas menukarkan uangnya.

"Adanya kartu kredit kemudian sekarang nontunai, bagi kami sebagai pedagang valas, tidak khawatir sebab jaman dulu hal itu sudah pernah ada saat hadirnya kartu kredit," jelas Putra yang Sekretaris Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Bali itu.

Pasalnya, uang kartal tidak bis dihilangkan karena hal itu sebagai jaminan jika terjadi sesuatu dengan seseorang ketika berada di suatu tempat seperti obyek wisata negara lain.

Belum lagi, Indonesia yang masih dianggap sebagai negara berkembang belum sepenuhnya tersedia infatsruktur memadai sampai ke daerah-daerah.

Dengan begitu, tamu-tamu yang berpergian atau berwisata membutuhkan jaminan bahwa dirinya tidak mengalami masalah sehingga dia merasa lebih nyaman dengan membawa uang mereka sendiri.

Putra menegaskan, berkaca dari semua pengalaman wisatawan yang berkunjung ke suatu negara membutuhkan jaminan uang.

Dari pengalaman membanjirnya produk kartu kredit sebagai alat pembayaran nontunai, tidak sampai mempengaruhi volume perdagangan valas relatif tetap stabil. tidak mengalami penurunan berarti.

Meski demikian, pihaknya tetap mendukung program pemerintah dalam mengurangi peredaran uang tunai dengan memaksimalkan transaksi elektronifikasi. Saat ini, jumlah pedagang valas yang masuk APVA Bali mencapai 450 an anggota. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi