Beredar Video Hizbut Tahrir, Adhyaksa Dault Tegaskan NKRI Harga Mati

Selasa, 02 Mei 2017 : 07.03
Adyaksa Dault (foto:istimewa)
JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga Periode 2004-2009 Adhyaksa Dault menegaskan bahwa Pancasila telah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa karenanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harga mati.

Adhyaksa perlu menjelaskan sikapnya itu, terkait beredarnya video Hizbut Tahrir (HT) Indonesia di laman facebooknya. Menurutnya, Pancasila adalah kesepakatan pendiri Republik Indonesia. NKRI selamanya, NKRI harga mati.

Dijelaskan, video tentang dirinya itu direkam aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), saat acara HTI tahun 2013.

"Seperti banyak acara organisasi lain yang saya hadiri, saya dan beberapa tokoh hadir di acara HTI itu sebagai undangan. Saya bukan simpatisan HTI, apalagi anggota HTI," tegas Ahiyaksa dalam keterangan tertulisnya diterima kabarnusa.com, Senin (1/5/17).

Beberapa hari Belakangan ini, video yang diambil empat tahun lalu itu, disebarluaskan beberapa akun di media sosial. "Karena video itu, saya difitnah anti Pancasila dan anti NKRI," ucap mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga 2004-2009 itu.

Dia merasa kaget, bagaimana mungkin dituduh anti Pancasila. Padahal, Adhiyaksa mengikuti pengkaderan dari bawah, sejak kuliah mengikuti P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Selain itu, pendidikan lainnya diikuti seperti Tarpadnas (Penataran Kewaspadaan Nasional), Suspadnas (Kursus Kewaspadaan Nasional).

"Saya mengikuti Bela Negara dan sebagai kader Bela Negara, dan banyak lagi, sampai saya jadi Ketua Umum KNPI, kemudian jadi Menpora, kemudian sekarang menjadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka," katanya menambahkan.

Bahkam, sampai detik ini, Adhyaksa tetap memegang teguh ketika dimanapun dan setiap ke daerah, selalu menyampaikan pada generasi muda agar mempertahankan dan merawat Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pada tahun, dirinya menggagas lomba foto #PramukaPancasila agar generasi muda menghayati dan mengamalkan Pancasila. "Silakan teman-teman telusuri di internet," sambungnya.

Terkait konsep negara khilafah islamiyah itu memang ada hadistnya, namun khilafah yang dimaksudkan Adhiyaksa adalah khilafah islamiyyah yang rosyidah. Bukan khilafah yang berarti meniadakan negara, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir, apalagi ISIS dan sebagainya.

Terkait video yang menghebohkan itu, harus dilihat juga tempat dan waktu dirinya berbicara. Pasalnya, video itu dibuat empat tahun lalu dan sekarang tahun 2017. Dengan kata lain, video tersebut tidak relevan.

Sekarang ini, tidak ada persatuan Islam, hari raya saja bisa berbeda, kalau ada khalifah, maka perbedaan-perbedaan dalam ibadah-ibadah tersebut bisa ditiadakan. Sekali lagi, ini bukan khilafah yang meniadakan negara.

"Jadi Pancasila, UUD 45, NKRI Bhinneka Tunggal Ika harus kita pertahankan dan kita rawat untuk generasi selanjutnya. Pancasila sudah menjadi kesepakatan pendiri Republik Indonesia. NKRI harga mati," tegasnya lagi.

Dia melanjutkan, jika kembali ke Pancasila dan NKRI. saat awal reformasi lagi ramai-ramainya orang teriak negara federasi, negara serikat dan sebagainya, Adhiyaksa sebagai Ketua Umum KNPI ketika itu langsung mengadakan kebulatan tekad NKRI harga mati.

Bersama tokoh-tokoh nasional ketika itu seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Amien Rais, Wiranto, AM Fatwa dan tokoh-tokoh lainnya, dia turut mendatatangani komitmen NKRI. "Sekarang komitmen dan tandatangan beliau-beliau semua itu masih terpatri  di dinding kantor DPP KNPI, Jalan Rasuna Said, Jakarta," demikian Adhyaksa. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi