Mahasiswa dan Jurnalis Kecam Pernyataan Mendikbud soal Survei Pendidikan NTT

Kamis, 07 Desember 2017 : 06.37
Aksi mahasiswa dan jurnalis asal NTT di Bali yang memprotes Mendikbud Muhajir Effendy
DENPASAR - Kalangan mahasiswa dan jurnalis memprotes pernyataan Mendikbud Muhajir Effendy yang mengkaitkan hasil survei soal rendahnya kualitas pendidikan di Tanah dengan dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Mereka tergabung Perhimpunan Jurnalis Nusa Tenggara Timur (PENA NTT) Bali dan aliansi mahasiswa asal NTT menyampaikan protesnya di depan Monumen Perjuangan Bajrasandhi Renon Denpasar, Rabu (6/12/2017).

Ketua Pena NTT Emanuel Dewata Oja mengungkapkan, mereka merasa tersinggung atas pernyataan Mendikbud Muhadjir sebagaimana dimuat harian nasional 4 Desember 2017.

Kala itu, Mendikbud menanggapi hasil survei Program for International Students Assesement (PISA) saat pertemuan di UNESCO November lalu, yang mengungkapkan kualitas pendidikan di Indonesia masuk ranking paling bawah.

Dalam pemberitaan itu, Mendikbud menyebut, jika sample dari survei itu adalah siswa-siswi asal NTT. Sebagaimana kutipan langsung Mendikbud "Saya khawatir yang dijadikan sample Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semua,".

Pernyataan inilah yang melahirkan protes mahasiswa dan jurnalis asal NTT di Bali. Kata Edo, panggilan Dewata Oja, jika pernyataan menteri itu betul, orang NTT harus kembali bertanya kenapa ini terjadi.

Aksi mereka bukan karena kami menyangkal bahwa kualitas pendidikan NTT rendah. Yang kami sesalkan adalah Menteri Pendidikan mempertegas bahwa kualitas pendidik di NTT menjadi penyebab runtuhnya peringkat kualitas pendidikan di Indonesia.

"NTT jadi kambing hitam. Kita akhirnya bertanya, siapa yang salah di sini," ujarnya.Bahkan Edo melihat seluruh warga NTT di manapun berada, patut merasa tersinggung, karena ternyata kualitas pendidikan di NTT menjadi penyebab peringkat kualitas pendidikan Indonesia merosot tajam di mata dunia.

Hal sama disamapikan wartawan koran nasional Arnold Dhae, dalam tiga hari terakhir warga NTT yang ada di mana-mana baik di Indonesia maupun di dunia patut marah. "Saat berita ini menyebar, para guru di NTT bersedih, para siswa di NTT ikut menangis," katanya berapi-api.

Mereka tersinggung, selama ini di mata seorang Menteri Pendidikan, warga NTT itu menjadi kelas dua. Bahwa survei di NTT itu menyebabkan mutu pendidikan Indonesia rendah karena siswa-siswi di NTT lantaran Mendukbud berasumsi, survei itu dilakukan di NTT. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi