Libatkan Potensi SAR, Empat Pos Aju Gunung Agung Disiagakan

Jumat, 08 Desember 2017 : 05.48
Tim SAR gabungan disiagakan di empat titik Pos Aju Gunung Agung/foto:basarnas
KARANGASEM - Para petugas gabungan Pos Aju yang dibangun di empat titik terdekat Gunung Agung Kabupaten Karangasem Bali terus disiagakan dengan tingkat kesiapsiagaan cukup tinggi pasca hari ke-11 penetapan status Awas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kesiapsiagaan itu antara lain penempatan tim pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) di beberapa titik strategis. Titik strategis tersebut memperhitungkan kemudahan akses dan keselamatan, baik personel maupun warga.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau biasa dikenal sebagai Basarnas Secara khusus, langsung mengendalikan operasi untuk SAR berada di bawah.

Basarnas bersama mitra kerja lain mendirikan pos aju dalam penanganan tanggap darurat erupsi Gunung Agung. Pos aju ini merupakan pos yang terdekat dengan kawasan berbahaya dan terletak di titik yang sudah diperhitungkan secara matang response time untuk evakuasi.

Basarnas melibatkan mitra kerja lain sebagai Tim SAR gabungan telah mendirikan pos aju di 4 titik, yaitu Rendang, Selat, Les, dan Jasri. Hanya Les yang berada di kabupaten lain, Buleleng.

Sementara pos lainnya berada di Kabupaten Karangasem. Pos aju ini biasanya berkekuatan 30 – 50 personel Tim SAR gabungan.

"Selain berkekuatan personel, mereka dilengkapi dengan armada dan perlengkapan evakuasi, seperti ATV (All Terrain Vehicle), truk dan tandu," jelas Cakra anggota Basarnas dalam keterangannya, Kamis (7/12/2017).

Pihaknya dibantu sejumlah personel disebut sebagai potensi SAR yang berasal dari beberapa instansi seperti TNI, Polri, PMI, maupun organisasi masyarakat. Kekuatan Basarnas berjumlah 58 yang berasal dari Denpasar dan Surabaya, tambah Cakra.

"Sebanyak 217 personel siaga yang tersebar di 4 pos aju. Kami juga dilengkapi dengan 2 unit ATV yang siap digerakkan," sambungnya.

Mengantisipasi situasi buruk, Tim SAR gabungan mempelajari mengenai jalur evakuasi yang dipersiapkan. Ketika mereka berada di lapangan untuk memonitor, mereka sekaligus mempelajari jalur evakuasi

Radio komunikasi dari Orari dan internal Basarnas terus dimanfaatkan untuk memonitor situasi di lapangan. Apabila mereka mendapatkan situasi krisis, yaitu letusan, Tim SAR dapat segera dimobilisasi untuk mengevakuasi warga yang masih tinggal di wilayah-wilayah yang berbahaya.

Tim SAR Gabungan dituntut kesiapsiagaan mengantisipasi ancaman erupsi Gunung Agung/foto:basarnas
Tantangan yang dihadapi Tim SAR sangat tinggi, selain medan lapangan, mereka berhadapan dengan warga yang mungkin enggan untuk dievakuasi di saat krisis. "Saat evakuasi, warga sulit dikasih tahu, kades pun tidak didengarkan. Permasalahannya mata pencaharian, rumah mereka di sana," ungkap Listya, personel Basarnas lainnya.

Diakuinya, aset dan mata pencaharian menjadi pertimbangan utama warga setempat yang enggan untuk dievakuasi. Di sisi lain, terdapat tindakan positif yang telah dilakukan oleh sebagian warga, yaitu evakuasi mandiri.

Basarnas selalu mengecek terlebih dahulu kualifikasi yang dimiliki oleh personel tadi. Ini dimaksudkan untuk memastikan keamanan dan keselamatan para personel. Tim SAR di lapangan selalu dimonitor oleh safety officer (SO) atau petugas keselamatan yang berfokus pada keselamatan para responder (Tim SAR) di lapangan.

Menghadapi ancaman erupsi Gunung Agung yang aktivitas vulkaniknya masih tinggi diperlukan kesiapsiagaan tinggi. Belajar dari letusan 1963 yang sangat eksplosif dan berdampak luas menjadi perhatian untuk seluruh pihak, baik masyarakat dan para pelaku penanganan darurat.

Hingga tanggal 6 Desember 2017, pukul 18.00 waktu setempat, BNPB mencatat jumlah pengungsi pada jumlah keseluruhan 66.716 jiwa. Mereka tersebar di 225 titik pos pengungsian. Jumlah titik pos pengungsian tertinggi di Kabupaten Karangasem, 129 titik dengan jumlah 39.486 jiwa. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi