Petani Jamur Tiram di Buleleng Kewalahan Penuhi Pesanan

Kamis, 23 November 2017 : 16.56
BULELENG - Para petani jamur di Kabupaten Buleleng mengaku kewalahan memenuhi pesanan yang kian meningkat dari masyarakat yang mulai gemar mengkonsumsi tumbuhan dengan nama latin Pleurotus ostreatus itu.

Jenis tumbuhan yang memiliki tangkai tumbuh menyamping (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus) itu, kian digemari masyarakat sebagaimana disampaikan Ketua kelompok Usaha Berlian Jamur Eni Meliyani (40).

Ia menuturkan, usaha pembudidayaan jamur tiram sudah digeluti mulai Tahun 2009 hingga sekarang. Kini, dia kewalahan akan tingginya peminat masyarakat Buleleng. Apalagi, tenaga terbatas dan alat manual dimiliki hanya mampu membuat bibit ( Beglog) jamur seminggu 1500 kantong.

Hal ini jelas menjadi kendala produksi pembudidayaan jamur tiram, ia sangat berharap pemerintah daerah bisa membantunya untuk mengembangkan usaha ini.

"Karena tingginya minat masyarakat terhadap jamur, jadi saya kepingin usaha ini bisa berkembang ketingkat pedesaan, selama ini terbentur modal, disamping alat manual saat pembuatan bibit," katanya kepada wartawan belum lama ini.

Dirinya ingin memiliki alat pengayakan untuk proses pembuatan itu bisa lebih cepat, apalagi untuk pemasaran Jamur Tiram ini cukup terbuka diantaranya mensuplai ke ritek Hardys, Pasar-pasar yang ada di kota Singaraja.

"Sampai kewalahan, pernah kita ambil jamur dari Jawa karena kebutuhan masyarakat sangat tinggi. Kami ingin ada olahan matangnya seperti dibuat di Malang, kami ingin kembangkan di Bali bersama masyarakat yang sudah kami bina bertahun-tahun," tandas Meliyani.

Kata Meliyani pembudidayaan jamur tiram ini sangat lah penting, mengingat belakangan ini kalangan atas sangat membutuhkan Jamur tiram merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi.

Selain itu, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%.

Pihaknya berharap pemerintah daerah bisa membantu usahanya ini agar berkembang dan mampu menembus pasar-pasar di Bali, dengan pesatnya minat masyarakat terhadap jamur tiram.

Untuk itu, kedepan ia berharap bisa melakukan pembudidayaan ini bisa menjadi olahan mateng seperti Kripik jamur, Crispy, Pisang Goreng jamur, Abon jamur, Nuget Jamur, Dodol Jamur dan lain-lain yang berbahan dari jamur tiram. (gde)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi