Mantan Komisioner KPU Siap Bersaing di Munas X KAHMI

Senin, 06 November 2017 : 07.30
Mantan komisioner KPU Sigit Pamungkas bersama dua kandidat lainnya saat sambung rasa di Yogyakarta
YOGYAKARTA - Mantan Komisioner KPU Pusat yang akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sigit Pamungkas menegaskan kesiapannya untuk bersaing dengan kandidat lainnya di ajang Munas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Medan Sumatra Utara.

Menjelang pelaksanaan Munas KAHMI 17-18 November 2017 di Medan, tiga kandidat Presidium Majelis Nasional KAHMI mulai mengenalkan visi, gagasannya di Kampus Fisipol Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Selain Sigit, ada nama Ir. Subandriyo dam Muslimin Singajuru siap memimpin KAHMI ke depan. Sigit yang Dosen Ilmu Politik Fisip UGM Yogyakart memaparkan tujuh program bagi KAHMI mendatang.

Menurutnya, HMI perlu menjadi golden bridge, jembatan emas bagi pemersatu elemen bangsa.

"Kita musti mengeratkan kembali komponen umat dan bangsa. Ke depan KAHMI harus mampu mengeratkan silaturahmi kebangsaan, sehingga kita tidak hanya sekadar menjadi bagian elemen dari elemen yang ada, tapi menjadi pemersatu," katanya.

Kata dia, saat ini, dari berbagai elemen umat Islam konsern dengan Pendidikan namun belum menjamin bisa membuat umat Islam kuat. Titik lemahnya, ada ruang kosong yang masih perlu di isi yaitu, penguatan ekonomi umat.

"Kita tidak perlu menandingi NU dan Muhammadiyah dalam Pendidikan, tapi melengkapi dengan mengembangan ekonomi ummat. Ke depan KAHMI harus punya amal usaha," jelas pria asal Sragen Jawa Tengah itu

Untuk itu, ke depan,KAHMI perlu mengembangkan management organisasi berbasis teknologi. Kemudian bersinergi agar banyak hal bisa dicetak dengan teknologi yang terbaru.

KAHMI harus bisa melaukan identifikasi kekuatannya dari sisi mana. Dia mencontohkan 5 tahun berkiprah di HMI, ada 34 Provinsi, dimana komisioner KPU diisi alumni HMI.

"Ada 70 orang di KPU Provinsi. Saya hitung gajinya bisa 1,2 M per komisioner KPU. Artinya mengoptimalkan jaringan dengan baik, tanpa harus menyumbang secara individu sistem sudah berjalan," tukasnya.

Ditegaskan Sigit KAHMI kedepan harus mengawal kebijakan pemerintah secara proporsianal. Jika kebijakan itu baik, harus didukung dengan segala kemampuan dan rasionalitas. Begitu juga sebaliknya, jika ada kebijakan yang kurang pas, perlu dikritisi dengan bijak dan cara-cara yang benar.

"Yang tak kalah penting, HMI harus menghidup-hidupi HMI, bukan hidup dari HMI," tutupnya sembari mengutip pesan KH Ahmad Dahlan untuk organisasi Muhammadiyah yang didirikannya.

Acara bertajuk 'Sambung Rasa Bersama Calon Presidium Majelis Nasional KAHMI', silaturahmi ketiga kandidat yang akan bertarung dalam Munas X KAHMI di Medan mendatang, memaparkan visi misi unggulannya.

Sementara, Subandriyo yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) MN Kahmi Periode 2012-2017 mengatakan, KAHMI diakui perannya dalam memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara.

KAHMI era kepemimpinan Prof. Dr. Mahfud MD saat ini, dikatakan Subandriyo bisa disejajarkan dengan Organisasi Massa (Ormas) Islam sekaliber Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

"Bahkan, di kancah internasional KAHMI disejajarkan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, masih banyak yang harus KAHMI benahi di masa mendatang," kata Subandrio yang juga alumni UGM Yogyakarta.

Menurutnya, alumni HMI kurang tertarik dengan dunia entrepreneur (pengusaha). Padahal, penguatan ekonomi saat ini menjadi sesuatu yang penting untuk digagas KAHMI. Kebanyakan anggota KAHMI, jalani tiga profesi, mulai dari politisi, birokrat dan akademisi.

"Yang jarang adalah pengusaha. Ke depan salah satu program unggulan saya adalah bagaimana menumbuhkan jiwa wirausaha di KAHMI," kata Subandrio yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Keluarga Alumni HMI (HIPKA).

Kandidat lainnya Erwin Muslimin Singajuru yang anggota DPR RI Komisi 8 dari Fraksi PDI Perjuangan. Erwin menyatakan siap untuk membawa KAHMI lebih baik dari kepemimpinan Prof. Mahfud MD saat ini.

Hanya saja, dia mengkritik Kahmi periode 2012-2017 saat ini program-programnya dinilai belum membumi. Program-program KAHMI sekarang dinilai masih seperti di Menara gading.

Alumni FH UII Yogyakarta ini pernah dua periode menjadi Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta era 80 an ini. Direktur LBH MN KAHMI ini mengemukakan, KAHMI banyak melahirkan akademisi yang memiliki jaringan politik maupun birokrasi. Hanya saja belum ada lembaga pendidikan yang dibangun KAHMI.

Diskusi dimoderatori Drs, Mashuri Maschab (dewan Pakar MW KAHMI DIY) ini dihadiri seratusan peserta dari pengurus KAHMI MW DIY, kader HMI se wilayah DIY. (tyo)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi