KKP Bantah Adanya Kandungan Logam Berat Beracun Ikan Sarden RI

Sabtu, 04 November 2017 : 06.40
Ikan sarden yang disebut-sebut mengandung logam berat beracun/foto:humas KKP
JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan informasi terkait isu adanya kandungan logam berat beracun menyerupai telur pada komoditas ikan Sarden atau Sardin di Indonesia sebagai informasi yang tidak benar alias hoax.

Sebagai pihak yang memiliki otoritas atau berwenang terhadap pengawasan keamanan produk hasil perikanan, KKP memastikan ketidakbenaran informasi itu berdasar beberapa hal pertimbangan dan kajian matang.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat KKP Lilly Aprilya Pregiwati meluruskan pemberitaan tersebut dengan menjelaskan jenis ikan yang saat ini ramai diberitakan adalah bukan berasal dari perairan Indonesia.

Ikan sarden jenis tersebut diketahui berasal dari kelompok Family Clupeidae. Hanya saja secara morfologis tidak mirip dengan ikan siro (Amblygaster sirm) maupun ikan lemuru (Sardinella lemuru) yang terdapat di Indonesia, yang menjadi bahan sardin kalengan atau ikan asin.

"Pada kasus ikan sardin yang ramai diberitakan, benda mirip telur atau kristal di dalam perut makanan ikan sardin kaleng yang dianggap tumor atau kanker berbahaya tersebut merupakan Glugea sardinellensis (sejenis protozoa)," tuturnya dalam siaran persnya, Jumat (3/11/2017).

Glugea mampu membuat sel-sel disekelilingnya menyerupai bola untuk membentuk perisai. Sel berbentuk telur ini dapat bertumbuh hingga ukuran 1-18 mm yang disebut dengan Xenoma. Di mana ikan tumbuh dalam kelompok besar, Glugea akan menyebar lebih banyak.

"Jadi dapat dipastikan bahwa benda mirip telur atau kristal tersebut bukan diakibatkan oleh kandungan logam berat sebagaimana diberitakan," katanya menegaskan.

Selain itu, parasit ini tidak menginfeksi pada manusia dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi jika terlebih dahulu dibersihkan, dicuci, dan direbus dengan benar. Glugea sebenarnya bukanlah penyakit aneh, langka, atau pun berbahaya sehingga tidak perlu dihindari.

Lilly menambahkan, ikan Sardin di Indonesia umumnya dijual dalam bentuk kemasan kaleng dan sudah melalui tahap jaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat ketat melalui sertifikasi SKP, HACCP, MD dan sekarang SPPT SNI.

Hal itu mengacu kepada standar FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga aman dikonsumsi.

Kemudian, persyaratan mutu dan keamanan produk Ikan Sardin dalam kemasan salah satunya adalah cemaran logam (Hg, Pb, Cd, Sn dan Arsen) di bawah batas yang di ijinkan. Jika salah satu logam berat melebihi ambang batas maka sertifikat mutu di atas tidak akan diterbitkan.

"Saat proses produksi, cara pengolahan dan sanitasi sudah diterapkan dengan baik. Sudah semestinya jika terlihat butiran seperti telur ikan akan otomatis dibersihkan karena kasat mata," sambungnya.

Karenanyam diduga butiran telur itu adalah parasit dan masih tertinggal dalam produknya, maka parasit dan sporanya sudah pasti mati, karena sarden dalam kemasan kaleng telah melalui proses pemanasan tinggi (sterilisasi) dengan persyaratan pangan sterilisasi komersial.

Jika ikan sudah dikeluarkan dari kaleng, dan dibiarkan lama di suhu ruang, makan akan terjadi kontaminasi yang memungkinkan ulat/belatung berada dalam produk sarden kaleng. Ini tentu merupakan kelalaian fatal dari konsumen.

"Konsumen diharapkan lebih cermat dan teliti dalam melihat tanggal kadaluarsa yang tercantum dalam kemasan kaleng," demikian Lilly. (gus)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi