Indef: Peringkat Iklim Bisnis RI Naik, Momentum Tarik Investasi LN

Sabtu, 11 November 2017 : 09.29
ilustrasi/net
JAKARTA - Meningkatnya kepercayana dunia terhadap iklim bisnis di Indonesia menjadi momentum penting untuk menarik minat investor luar negeri untuk berinvestasi di Tanah Air. Berdasar Publikasi Ease of Doing Business (EODB) 2018 oleh World Bank membawa angin segar kepada investasi ke depan.

Kenaikan peringkat dari posisi 91 (2017) menjadi 72 dari 290 negara (2018). Hanya saja, peringkat Indonesia masih di bawah posisi Singapura (2), Malaysia (24), Thailand (26) dan Vietnam (68).

Walaupun secara score keseluruhan kemudahan berbisnis di Indonesia mengalami kenaikan dari urutan 91 di tahun 2017 menjadi 72 di tahun 2018. Hal ini mengindikasikan bahwa perlu perbaikan agar waktu dan biaya dalam melakukan ekspor-impor.

"Ini dapat dijadikan momentum untuk menarik investasi dari luar negeri, karena kepercayaan terhadap kondisi iklim bisnis di Indonesia," ujar ekonom Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini dalam siaran persnya, Jumat (10/11/2017).

Menurut Eisha, iklim bisnis perlu dijaga dan juga perlu membenahi komponen indikator yang masih perlu ditingkatkan, seperti deregulasi izin usaha dan prosedur ekspor-impor, pendaftaran properti, perpajakan dan proteksi investor.

Pemerintah diharapkan menarik investasi yang memberikan penyerapan tenaga kerja (Reforming to create jobs). Terkait dengan pengangguran meningkat di kuartal ini serta pelemahan daya beli karena penurunan pendapatan.

"Investasi bukan hanya memanfaatkan pasar yang besar di Indonesia, mengingat populasi Indonesia yang besar, namun investasi untuk meningkatkan kegiatan ekonomi berorientasi ekspor," tegas doktor Candidate Waseda University, Tokyo.

Berdasarkan investasi sektoral, investasi pada industri pengolahan terutama yang berorientasi ekspor perlu ditingkatkan.

Selain itu, investasi yang bermitra dengan industri kecil dan menengah juga diprioritaskan, untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, serta meningkatkan keahlian tenaga kerja industri kecil dan menengah melalui transfer of knowledge.

Pada bagian lain, Eisha menekankan, Investasi di luar pulau Jawa perlu ditingkatkan untuk pemerataan. Selama ini, lokasi investasi di pulai Jawa, yaitu 52,5% (2015) dan 51% (2016).

Sementara itu, sampai dengan Q2 2017, share investasi di pulau jawa yaitu sebesar 48%, terjadi kenaikan pertumbuhan investasi di Sumatra sebesar 70% (q.o.q) dan Sulawesi sebesar 37% (q.o.q.).

"Sangat diperlukan Infrastruktur yang memadai dan juga reformasi regulasi, menyamakan persepsi pemerintah pusat dan daerah dalam hal kemudahan bisnis dan investasi," katanya menegaskan.

Eisha juga memaparkan, pertumbuhan ekspor komoditas berbasis sumber daya alam dan nilai tambah rendah menopang pertumbuhan ekspor yang signifikan di kuartal ketiga 2017.

Pertumbuhan ekspor sektor komoditas pertambangan (34.7%) lebih besar dibanding pertumbuhan ekspor industri pengolahan (14.51%) pada periode Jan-Sep 2017, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan Ekspor masih ditopang oleh komoditas pertambangan dan mineral, juga produk pertanian, seperti batu bara, palm oil, dan biji kopi. Data Ekspor (Bank Indonesia, Jan-Aug 17) menunjukkan pertumbuhan ekspor palm oil (48.3%), batu bara (46.3%), dan biji kopi (54%).

Secara sectoral, komoditas tersebut memiliki share cukup besar pada sektor-sektor berikut ini: batu bara (55.6% dari total produk pertambangan); Palm oil (15% dari total produk industri pengolahan); biji kopi (21% dari produk pertanian). (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi