Ekspansif dan Berambisi Kejar IPO, Bisnis Group Hardys Tumbang

Kamis, 23 November 2017 : 09.45
Presiden Direktur Group Hardys I Gede Agus Hardyawan berikan keterangan pers
DENPASAR - Ambisi bisnis yang terlalu ekspansif dan tidak fokus dalam menjalankan core bisnis menjadi dua penyebab penting tumbangnya PT Hardys Retailindo dan PT Hardys Group yang sempat menjadi kelompok bisnis ritel terkemuka di Pulau Dewata Bali.

Publik terhenyak ketika baru-baru ini, Pengadilan Niaga Surabaya menjatuhkan putusan pailit terhadap I Gede Agus Hardyawan dan kelompok bisnisnya PT Hardys Retailindo dan PT Hardys Group.

Bagi masyarakat dan pelanggan khususnya di Bali, nama Hardys sudah demikian lekat, menjadi bagian penting keseharian hingga gaya hidup.

Hardys, terbilang sukses dan memiliki reputasi dalam bisnis ritel yang dirintis pengusaha lokal asal Kabupaten Jembrana. Usaha ritel Hardys berkembang pesat bahkan makin dikenal hingga keluar Bali.

Hardyawan salah satu dari sedikit pengusaha lokal Bali, yang mampu bersaing dengan pebisnis ritel kakap di Tanah Air.

Namun, perjalanan waktu mengubah semuanya, Hardys dinyatakan pailit atau bangkrut sehingga kini semua aset dan manajemen diambil alih bank dan sebagian kepemilikan bisnis telah berpindah tangan atau dibeli pengusaha lokal lainnya.

Ditengah keterpurukan bisnis itu, Hardyawan mencoba tegar dan terus membangun optimisme agar bisa bangkit kembali menata kampium bisnisnya mulai dari nol.

Bahkan, dengan secara gentle dan terbuka, menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Bali karena gagal mengelola GroupHardys secara baik hingga dinyatakan bangkrut.

Di depan puluhan media di Bali, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, ditemani sang istri Ketut Rukmini Hardy dengan gamblang dan sangat terbuka menjelaskan bagaimana bisnis yang dirintis bersama sang istri itu akhirnya tumbang sebelum mimpi untuk segera Initial Public Offering (IPO) atau go publik terwujud.

Menurut Hardyawan, dari evaluasi dan otokritik yang dilakukan, ambruknya Group Hardys karena gempuran faktor internal dan ekternal yang gagal diantisipasi dengan baik.

"Masyarakat jamam now shifting belanjaan cenderung menggunakan uangnya untuk leisure, senang-senang dan kongkow-kongkow di Bar, cafe dan lainnya," ucap dia Kantor Office Hardys Corp, Perumahan Elit By Pass Garden, Sanur, Denpasar, Rabu (22/11/2017) malam.

Faktor lainnya, kondisi perekonomian global dan lokal yang menurutnya mengalami fulldown, kelesuan yang berimbas pada penurunan daya beli masyarakat.

Kemudian, menjamurnya bisnis berjaringan dan mart-mart modern yang menjamur hingga ke pelosok desa di Bali, menjadi saingan keberadaan bisnis ritel dan grosir Hardys.

Demikian juga, era bisnis berbasis digital online shop, e-commerce, tidak diantisipasi dengan baik oleh Hardys. "Saya akui karena sibuk ekspansif, gagal mengantisipasi kehadiran bisnis digital atau online, sambungnya.

Dalam pertemuan yang difasilitasi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Bali, Hardyawan melanjutkan, faktor internal yang dirasa paling memukul bisnis Group Hardys, yakni terlalu ekspansif memperluas outlet di mana saat ini, ada 12 titik lokasi dan luasa 5-14 hektar per lokasi.

Aset tanah luas yang dibelinya itu, rencananya akan dikembangkan dengan konsep property mix used antara lain comercial property, residential, property dan hotel property, namun belum sempat berkembang keburu bisnis property terjun bebas.

"Kami terlalu ekspansif mengembangkan outlet dan bermimpi mengejar target IPO Hardys Retail tahun 2020," tuturnya didampingi Sekretaris Aprindo Bali Abdi Negara.

Padahal, uang atau dana-dana yang didapat semuanya berasal dari pinjaman sejumlah Bank yang kemudian dibelikan untuk aset-aset seperti tanah dan property. Hardyawan menyebutkan, total aset dimiliki mencapai 4,1 Triliun dengan total hutang mencapai Rp 2,3 Triliun.

Jadi, selama ini, sumber pembiayaan bisnis Hardys sekira 70 persen bergantung pada pinjaman bank sehingga sangat membahayakan dan rentan dalam tata kelola keuangan atau manajemen cashflow.

Sejatinya, dia telah diingatkan oleh manajemen lewat mekanisme internal perusahaan namun pada akhirnya dia sebagai Presiden Direktur pemegang hak veto, sehingga keputusan apapun pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sangat bergantung dirinya.

"Saya tidak fokus pada corebisnis, seandainya bisa masuk di IPO, tentunya ada makanisme pengawasan yang lebih baik sebagai perusahaan publik, namun keburu ambruk," katanya menegaskan.

Dari semua hal yang disampaikannya itu, Hardyawan ingin berbagi pengalaman kepada para pengusaha muda, adik-adik maupun seniornya serta masyarakat,agar bisa mengambil hikmah dan belajar dari kesalahannya.

"Kejadian ini memberikan pelajaran sangat berharga, agar kami pribadi, keluarga maupun manajemen perusahaan bisa Mulat Sarira, kami terus berusaha memberikan warna dan goresan kecil dalam sejarah di Bali sebagai sebuah swadarma kami," demikian Hardyawan. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi