BNPB Catat 2.057 Bencana Akibatkan 3,2 Juta Warga Mengungsi

Selasa, 21 November 2017 : 07.21
Bencana saat erupsi Gunung Sinabung/dok.bnpb
JAKARTA - Berdasar data dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga menjelang akhir tahun 2017 ini terjadi 2.057 bencana alam terjadi di Tanah Air yang merenggut 282 jiwa dan mengakibatkan sekira 3.2 jiwa warga mengungsi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNP Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, ancaman bencana akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan. Puncak hujan diperkirakan Januari mendatang sehingga bencana banjir, longsor dan puting beliung akan juga meningkat.

"Ini di luar dari bencana geologi seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunungapi yang dapat terjadi kapan saja," ujar Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/11/2017). Data sementara kejadian bencana selama 2017 (1/1/2017 hingga 20/11/2017) terdapat 2.057 bencana.

Jenis dan jumlah kejadian bencana ini terdiri dari banjir (689), puting beliung (618), tanah longsor (545), kebakaran hutan dan lahan (96), banjir dan tanah longsor (63), kekeringan (19), gempa bumi (18), gelombang pasang/abrasi (7), dan letusan gunungapi (2).

Akibat bencana dari 2.057 kejadian itu tercatat 282 orang meninggal, 864 orang luka-luka dan 3.209.513 orang mengungsi dan menderita. Kerusakan bangunan meliputi 24.282 unit rumah rusak (4.594 rusak berat, 4.164 rusak sedang dan 15.524 rusak ringan) dan 313.901 unit rumah terendam.

Sebanyak 1.611 unit fasilitas publik meliputi 974 unit fasilitas pendidikan, 546 unit fasilitas peribadatan dan 91 fasilitas kesehatan.

Dampak ekonomi tentu cukup besar karena telah menyebabkan penderitaan masyarakat. Sebagai misal dampak kerugian ekonomi peningkatan status Awas Gunung Agung di Bali mencapai lebih dari Rp 2 trilyun. Jumlah total kerugian dan kerusakan ekonomi akibat bencana belum dilakukan perhitungan.

Untuk itu, Pemda dan masyarakat dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana. Kejadian curah hujan ekstrem makin meningkat saat ini. Dampak perubahan iklim global memang makin meningkatkan kejadian hujan ekstrem.

Banjir di Sumatra Utara/dok.bnpb
Selain itu kerusakan lingkungan, degradasi lahan, daerah aliran sungai kritis dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana juga makin meningkatkan risiko bencana.

Sesungguhnya, saat ini darurat ekologi. Luas lahan kritis di Indonesia sekitar 24,3 juta hektar. Laju kerusakan hutan rata-rata berkisar 750.000 hektare per tahun. Sementara kemampuan pemerintah melakukan rehabilitasi hutan dan lahan rata-rata berkisar 250.000 hektare per tahun.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir di dataran banjir dan bantaran sungai seperti di sepanjang pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, Kalimantan dan lainnya harus waspada terhadap ancaman banjir.

Begitu pula masyarakat yang bermukim di daerah rawan longsor di perbukitan, pegunungan atau tebing dan lereng hendaknya waspada dari ancaman longsor.

Masyarakat perlu melakukan pemantauan lingkungan sekitar akan tanda-tanda longsor seperti adanya retakan, amblesan tanah, mata air berubah keruh, tiang listrik atau pohon menjadi miring, dan lainnya.

Peta rawan banjir dapat diakses di website BNPB. Begitu juga peta rawan longsor dapat diakses di website Badan Geologi. Prediksi cuaca dapat diperoleh dari BMKG. Hendaknya peta dan informasi tersebut dijadikan dasar bagi pemda dan aparat untuk memberikan informasi, sosialisasi dan peringatan dini kepada masyarakat. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi