Transaksi 19 Ribu Butir Ekstasi di Bali, Iskandar Diancam Hukuman Mati

Selasa, 17 Oktober 2017 : 20.15
Terdakwa Iskandar Halim menjalani sidang di Pengadilan Negeri Denpasar/foto:istimewa
DENPASAR - Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Kade Wahyudi dan Oka Ariani Adikarini mendakwa
Iskandar Halim alias Ko'I bin Muslim Halim dalam kasus transaksi atau jual beli 19 ribu pil ekstasi dengan ancaman pidana mati.

Jaksa menjerat terdakwa dengan Pasal berlapis. Yaitu Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dan subsider Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana mati.

Dakwaan jaksa dibacakan pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Denpasar, Selasa (17/10/2017). Saat mendengarkan dakwaan di hadapan Ketua Majelis Hakim Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi, terdakwa Iskandar dampingi pengacara Ketut Ngastawa dkk.

Dalam dakwaan diketahui, terdakwa beralamat di jalan Nipah No. 68 RT 004 RW 006 Kelurahan Berok Nipah, Padang, Sumatra Barat ini terancam hukuman mati.

Terdakwa bersama Dedi Setiawan alias Cipeng bin Alex, Budi Liman Santoso alias Budi Bin Sujono Liman Santono dan Abdul Rahman Willy alias Willy bin NG Leng Kong di Paradise Hotel, Sanur tanggal 4 Juli 2017 sekira pukul 11.00 Wita melakukan percobaan pemufakatan jahat jual beli Narkotika.

Diuraikan, penangkapan terhadap terdakwa berawal dari tertangkapnya Dedi Setiawan (terdakwa dalam berkas terpisah) di Perumahan Metro Permata Blok B2 No. 28 RT 11 RW 001 Jln. Raden Saleh, Banten pada tanggal 1 Juli 2017.

Tim Bareskrim Mabes Polri Dari menggeledah Dedi Setiawan mengamankan 19 ribu pil ekstasi dengan berat 7.916.66 gram.

"Kepada petugas terdakwa mengaku ekstasi akan dijual kepada seseorang melalui perantara Iskandar Halim (terdakwa dengan berkas terpisah) dengan harga Rp 105.000 per butir," ungkap jaksa.

Kemudian, Dedi menghubungi terdakwa Iskandar bertemu di Bali dan menjual 19 ribu ekstas. Usai menerima telefone Dedi, Iskandar menuju Denpasar. Setiba di Bali, 3 Juni 2017 pukul 22.00 Wita, terdakwa menghubungi Dedi dan mengatakan dirinya sudah berada di Bali.

"Keesokan harinya terdakwa kembali menghubungi Dedi. Saat itu Dedi mengatakan sudah barada di Bali dan berada di Hotel Sanur Paradise Jln. Hang Tuah, Sanur," urai JPU dalam dakwaan.

Terdakwa Iskandar ke Hotel Sanur Paradise menemui Dedi. "Dedi meminta terdakwa ke kolam renang hotel," sebut jaksa. Terdakwa ditangkap Tim Gabungan dari Bareskrim Mabes Polri saat tiba di kolam renang. Saat penggeledahan, petugas hanya berhasil mengamankan sebuah handphone.

Sedangkan terkait barang bukti 19 ribu ekstasi, terdakwa mengaku akan menjualnya kepada seseorang melalui perantara Budi Liman Santoso (terdakwa dalam berkas terpisah).

Alasan kenapa harus melalui Budi Liman Santoso, dalam dakwaan terungkap yang akan membeli 19 ribu ekstasi ini hanya mengenal Budi Liman. "Terdakwa mengaku hanya diminta tolong oleh Dedi Setiwan untuk menjualkan dengan harga Rp 105.000 per butir," sebut jaksa.

Pada hari itu juga, terdakwa menghubungi Budi Liman sembari mengatakan barang berupa ekstasi sudah ada serta memintanya datang ke kolam renang hotel Sanur Paradise. Terdakwa menjelaskan Budi Liman sebagai perantara yang akan menjual ekstasi itu kepada seseorang dengan harga Rp 110.000.

Dengan catatan untung Rp 5000 perbutir dibagi dua, sehingga masing-masing akan mendapatkan keuntungan Rp 47.500.000.

Namun ternyata, Budi Liman sebagaimana terungkap dalam dakwaan jaksa, menjual kepada Abdul Rahman Willy alias Willy bin NG Leng Kong dengan harga Rp 120.000 per biji. Sehingga jika dikalikan 19 ribu maka menjadi Rp 2.280.000.000. (gek)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi