Kepanikan Usai, Gubernur Pastika Harapkan Pengungsi Luar KRB Segera Pulang

Minggu, 01 Oktober 2017 : 08.55
Gubernur Bali Mangku Pastika saat mengunjungi Posko pengungsian di Buleleng
BULELENG - Setelah empat hari masa kepanikan warga usai pascastatus awas Gunung Agung Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengharapkan para pengungsi yang berada luar Kawasan Rawan Bencana (KRB) segera pulang ke rumah.

Sehari setelah evaluasi terhadap jumlah pengungsi dan rencana aksinya, Gubernur Pastika kembali bertatap muka secara langsung dengan pengungsi di Posko Banjar Tembok, Posko Desa Sambirenteng, Posko Desa Les dan Desa Bukti Kabupaten Buleleng, Sabtu (30/9/2017)

Pastika ingin memantau kondisi pengungsi sekaligus mensosialisasikan beberapa himbauan hasil rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana Gunung Agung.

Diketahui, jumlah pengungsi yang mencapai 144 ribu lebih, dua kali lipat lebih dari hasil pemetaan penduduk di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang dilakukan BNPB. Kondisi akibat masyarakat panik pasca ditetapkannya Gunung Agung dalam status Awas.

"Sehingga warga yang berada di kawasan aman ikut mengungsi padahal seharusnya tidak mengungsi ikut mengungsi," kata Pastika.

Untuk itu Pastika menegaskan hanya warga di 27 desa yang masuk KRB saja yang harus mengungsi, dan menghimbau agar warga di 51 desa aman untuk kembali ke asalnya.

“Sekarang kan sudah empat hari sudah mulai tenang, mulai kita pikirkan namanya tahapan konsolidasi dan rekonsolidasi.

Daerah rawan satu, dua, tiga itu jumlahnya 70 ribu, kalau pengungsi 144 ribu dari mana yang lain ini, berarti daerah aman dia ikut ngungsi.

"Wajar, saya tidak menyalahkan karena panik. Sekarang sudah selesai paniknya jadi harus kembali, bukan diusir,” jelas Pastika.

Lebih lanjut Pastika juga memerintahkan aparat desa untuk melakukan pendataan tempat-tempat yang strategis guna memindahkan pengungsi ke tempat yang lebih layak. Menurutnya, pengungsi akan lebih layak apabila tinggal di Balai Banjar, Wantilan, atau pun GOR dibanding harus tinggal di tenda-tenda.

Selain kesehatan lebih terjamin, memudahkan dalam distribusi logistik dan pelayanan kesehatan serta pengelolaan dapur umum secara mandiri.

“Sekarang sudah bisa memikirkan jangka panjang. Berapa disitu punya Balai Banjar, Balai Serbaguna, GOR kalau ada, termasuk Wantilan Pura. Yang dalam tenda berangsur-angsur kita pindahkan ke gedung biar lebih nyaman, lebih sehat, lebih gampang dan biarkan mereka masak masing-masing, kita tinggal drop bahan-bahannya,” demikian Pastika. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi