Dirlantas Sudana: Pakai Rotator Kami Tindak, Termasuk Mobil Pecalang atau Ormas

Minggu, 15 Oktober 2017 : 11.07
Polisi menindak mobil yang menggunakan rotator atau sirine tidak sesuai ketentuan/foto:hms polda bali
DENPASAR - Polda Bali memberlakukan tindakan tegas dalam menegakkan aturan terhadap kendaraan mobil atau motor pribadi yang menggunakan lampu rotator dan sirine termasuk mobil milik pecalang atau ormas.

Direktur Lalu Lintas Polda Bali Kombes Pol. Anak Agung Made Sudana menegaskan data selama tiga bulan terakhir, pihaknya menindak 75 kendaraan. Lampu rotator dan sirene langsung dilepas di tempat dan pemilik kendaraan diberi surat tilang.

"Kami tindak sesuai aturan yang berlaku. tidak pandang bulu, mobil atau motor pribadi yang pakai rotator dan sirene kita akan tilang, termasuk kendaraan pecalang maupun ormas," tegas Sudana kepada wartawan akhir pekan ini.

Maraknya penggunaan lampu rotator dan sirene di kalangan pengguna kendaraan, membuat Kasubdit Bin. Gakkum Direktorat Lalu Lintas Polda Bali AKBP Andy Prihastomo bergerak cepat.

Pihaknya memberikan surat tilang dan meminta pemilik kendaraan melepas langsung, jika menemukan kendaraan pribadi yang masih menggunakan lampu rotator dan sirene melintas di jalan raya.

Andry mengaku kepolisian sudah melaksanakan sosialisasi terkait penggunaan lampu rotator dan sirene kepada masyarakat. Sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menolak dan merasa keberatan saat ditilang polisi.

Kata dia, penggunaan rotator dan sirene yang tidak sesuai aturan sangat mengganggu kenyamanan di jalan. Penggunaan yang arogan disertai dengan mengintimidasi pengguna jalan lainnya, ini sangat berbahaya.

"Program ini sesuai perintah Kapolda Bali dan langsung ditindaklanjuti jajaran Ditlantas Polda Bali," kata Andy kepada wartawan lewat sambungan telefone.

Alasan polisi mengambil tindakan tegas mengacu Pasal 59 ayat (5) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang mengatur penggunaan lampu isyarat dan sirene.

Disebutkan, Lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk mobil petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk mobil tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, dan jenazah.

"Sedangkan lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil patroli jalan tol, pengawasan sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek kendaraan, dan angkutan barang khusus," tuturnya.



Jika penggunaan komponen tersebut diluar ketentuan, maka pelanggar dapat dikenakan ketentuan pidana sesuai dengan Pasal 287 Ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009.

Pasal itu berisi setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi kendaraan yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000 (Dua ratus lima puluh ribu rupiah). (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi