Perbankan Diminta Bantu Sekuritisasi KPR Secara Berkesinambungan

Jumat, 08 September 2017 : 00.29
NUSA DUA - Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo meminta kalangan perbankan dapat membantu proses sekuritisasi KPR secara berkesinambungan melalui penyaluran KPR dengan suku bunga yang lebih stabil.

Mardiasmo juga mengharapkan terjadinya peningkatan kemampuan dalam menyalurkan KPR baru serta membuka akses yang lebih luas kepada pembiayaan perumahan untuk seluruh keluarga Indonesia.

"Seiring berkembangnya pasar perumahan, kemampuan dari pelaku pasar untuk mendukung pembiayaan perumahan di Indonesia menjadi penting," tuturnya dalam sambutan pembukaan Pertemuan "Fixed Income Asia" di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (7/9/2017) 

Ia mengatakan SMF didirikan pemerintah untuk memfasilitasi sumber daya jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan KPR masyarakat berpenghasilan menengah bawah.

Sesuai mandatnya, SMF sebagai penyedia likuiditas kepada penyalur KPR melalui penerbitan obligasi dan penerbit transaksi sekuritisasi. Kata dia, SMF sebagai penerbit EBA SP, mengalirkan dana dari pasar modal ke pasar pembiayaan perumahan.

Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Lana Winayanti dalam sambutannya mengatakan bahwa Efek Beragun Aset Kredit Pemilikan Rumah (EBA KPR) sukses diterapkan di banyak negara yang semua melibatkan pentingnya dukungan Pemerintah.

Pihaknya berharap Pemerintah dan para pembuat kebijakan dapat memberikan dukungan lebih terkait landasan hukum dan kebijakan.

SMF didirikan pada tahun 2005 di bawah Kementerian Keuangan yang mengemban tugas membangun dan mengembangkan Pasar Pembiayaan Sekunder Perumahan melalui sekuritisasi dan pembiayaan.

BUMN itu memiliki kontribusi penting dalam menyediakan dana menengah panjang bagi pembiayaan perumahan melalui kegiatan sekuritisasi dan pembiayaan.

Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Ananta Wiyogo menegaskan penyaluran KPR diharapkan dapat meningkatkan volume penerbitan KPR terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

PT SMF optimistis Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang menjadi target investor untuk berinvestasi di pasar "fixed income" atau tingkat pendapatan tetap karena didukung peringkat layak investasi yang meningkat.

"Pasar 'fixed income' Indonesia masih tumbuh dengan 'yield' (imbal hasil) yang lebih tinggi sehingga tentunya akan lebih menarik bagi investor," sambungnya.

Direktur Utama PT SMF Ananta Wiyogo
Menurut Ananta, potensi pembiayaan perumahan di Indonesia juga masih besar yang menjadi daya tarik untuk diterbitkan efek beragun aset kredit kepemilikan rumah (EBA KPR).

Belum lagi pasar modal kawasan Asia yang berkembang pesat termasuk di Indonesia dengan peringkat investasi menjadi "investment grade" atau layak investasi, sehingga banyak produk investasi yang dapat dimanfaatkan penanam modal juga menjadi indikator penting.

"Karena itu, diharapkan investor tertarik berinvestasi pada efek yang diterbitkan oleh SMF baik berupa surat utang korporasi maupun EBA Surat Partisipasi," katany

SMF menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi keempat tersebut yang dihadiri 200 delegasi dari anggota "Asian Secondary Mortgage Market Association" (ASMMA) di antaranya Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Filipina, Mongolia dan Indonesia.

Peserta yang hadir terdiri dari pemangku kebijakan dan regulator di pasar modal seperti Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta investor seperti dana pensiun, perusahaan asuransi dan perusahaan "asset management". (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi