Penyidikan Kasus Wily Usai, Polisi Masih Jaga Diskotek Akasaka

Rabu, 20 September 2017 : 19.04
Mobil rantis Polda Bali masih disiagakan di depan gerbang Diskotek Akasaka
DENPASAR - Meski penyidikan kasus narkoba dengan tersangka Abdul Rahman alias Wily dinyatakan usai, namun aparat kepolisian bersenjata lengkap masih disiagakan di Diskotek Akasaka Jalan Teuku Umar Denpasar, Bali.

Menyusul selesainya penyidikan terhadap Wily, sejatinya Mabes Polri telah membuka garis polisi (police line) Akasaka pada 8 Juli 2017 lalu.

“Kami sudah membuka garis polisi pada 8 Juli lalu karena penyidikan terhadap Wily sudah selesai. Kasusnya juga sudah selesai ditangani, dan sekarang sudah masuk tahap I dan II,” kata Direktur IV Narkoba Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Eko Danianto lewat telepon waktu lalu kepada wartawan.

Hanya saja, meski garis polisi sudah dibuka 8 Juli sehari kemudian atau 9 Juli Polda Bali kembali memasang garis polisi dan menempatkan mobil rantis persis di depan pintu gerbang tempat dugem ternama di Bali itu.

Terkait hal itu, Eko menegaskan hal itu wewenang Polda Bali. "Mungkin kasusnya sudah berulang-ulang, dengan penilaian itu maka Polda memasang kembali garis polisi," imbuhnya.

Kabid Humas Polda Bali, Kombes Hengky Widjaja sempat dimintakan konfirmasi wartawan lewat telefon memberikan jawaban lewat pesan whatsapp, Minggu (17/9) lalu.

“Maaf ini hari Minggu. Masalah Akasaka sudah dalam penyidikan Bareskrim Polri. Jadi saya kira tidak ada lagi yang perlu disampaikan oleh Polda Bali,” tulis Kombes Hengky

Hingga kini, belum diperoleh penjelasan dari pihak Polda Bali terkait langkah pemasangan kembali garis polisi pada 9 Juli di depan gerbang Akasaka.

Dalam pandangan Ahli Hukum Pidana, Dr. Simon Nahak, jika Polda Bali kembali memasang garis polisi, mestinya ada dasar hukum yang jelas.

"Kalau dengan dalil ada kasus yang sama sebelumnya, kenapa tidak dipasang garis polisi? kan saat itu, selain itu, harus ada SPDPnya? (surat pemberitahuan dimulainya penyidikan)," kata Simon kepada wartawan.

Selain itu, pengamanan terhadap Akasaka setelah digerebek tim Mabes Polri 6 Juni lalu karena kasus 19 ribu ekstasi, dianggap berlebihan dan tak lazim seperti kasus sejenis lainnya. Apalagi, ada mobil rantis dan polisi yang selalu bersiaga dengan senjata lengkap.

Simon kalau dari aspek hukum pidana, harus dilihat apakah proses penyidikan dan penyelidikan sudah berjalan atau belum, atau masih dalam proses.

“Kalau sudah selesai ya clear dan garis polisi dibuka. Garis polisi itu dipasang untuk status perkara dan barang bukti,” tukasnya. Berbeda jika kemudian, setelah kasus Wily, ada kasus serupa lagi di tempat sama, polisi punya kewenangan memasang garis polisi lagi.

“Namun ini aneh, karena bertentangan dengan logika hukum khususnya asas hukum tempus delicti (peristiwa sejak kapan terjadi). Setelah Wily kan tak ada kasus lagi, jadi sudah clear," sambungnya.

Tempus delicti merupakan waktu terjadinya suatu tindak pidana. Tempus delicti menjadi penting karena berhubungan dengan, apakah suatu perbuatan pada waktu itu telah dilarang dan di ancam dengan pidana

Jika kemudian ada garis polisi lagi karena alasan kasus yang sama sebelumnya, hal ini menurutnya bertentangan dengan tempus delicti. Pasalnya, waktu sudah lewat, kenapa tidak dipasang garis polisi sebelum kasus Wily.

"Lalu atas dasar hukum apa Polda Bali memasang kembali garis polisi,” tanya Simon. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi