Kumpul di Bali, Rektor se-Indonesia Siap Deklarasikan Lawan Radikalisme

Senin, 25 September 2017 : 00.30
Nyoman Antaguna/kabarnusa
DENPASAR - Para Rektor Perguruan Tinggi se-Indonesia menggelar "Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme" di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Nusa Dua, 25-26 November 2017.

Sebanyak 3000 Rektor akan menghadiri kegiatan tersebut. Ketua Panitia Pelaksana Nyoman Gede Antaguna mengatakan, kegiatan ini akan dibuka Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir pada, Senin (25/9/2017) pukul 16.00 Wita.

Menteri Agama juga dijadwalkan hadir pada pembukaan. Sedangkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan hadir pada penutupan kegiatan pada, Selasa (26/9/2017).

"Sampai saat ini, semua persiapan sudah matang. Presiden Jokowi akan hadir pada acara penutupan. Saat itu ada pembacaan ikrar dan penandatanganan prasasti dari batu. Ikrar dan prasasti itu berisi pernyataan komitmen dan kebulatan tekad melawan radikalisme, dan setia pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," jelas Mangde, sapaan Antaguna saat konferensi pers Minggu (24/9/2017)

Mangde menjekaskan, sebelum acara pembukaan, digelar seminar terkait Nasionalisme dan Radikalisme. Tiga pembicara seminar sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir, yakni Kapolri

Jenderal Pol TitoKarnavian, Kepala Badan Nasional Penanggulan Teroris dan Kepala Unit Kerja Pancasila (UKP) Yudi Latif dan Ahmad Syafii Maarif.

"Sebelum pembukaan ada seminar. Tiga pembicara sudah konfirmasi hadir, yaitu Kapolri, Yudi Latif dan Buya Syafii Maarif. Setelah pembukaan, peserta dibagi dalam tiga komisi untuk membicarakan langkah-langkah Perguruan Tinggi dalam mencegah upaya-upaya yang ingin mengganti Pancasila, merubah NKRI dan merusak kebhinekaan.

"Hasil pembahasan komisi ini menjadi ikrar yang akan dibacakan saat acara penutupan yang dihadiri presiden Jokowi," jelas dia

Ketua DPD KNPI Provinsi Bali yang juga akademisi Universitas Warmadewa Denpasar ini mengatakan, Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme tersebut merupakan tindak lanjut dari Focus Group Discussion (FGD) puluhan Rektor berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia, yang dilaksanakan di Denpasar l akhir Juli lalu.

"FGD itu membahas cara mengantisipasi fenomena radikalisme dan terorisme di Indonesia," jalasnya.

Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme ini sebagai respon atas maraknya berbagai peristiwa intoleransi, persekusi, kebencian, fitnah dan adu domba serta berbagai tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal, serta berbagai peristiwa dan sentimen SARA yang semuanya cenderung terindikasi hendak mengganti Pancasila dan bentuk NKRI.

Semua Perguruan Tinggi hendaknya berada dalam satu barisan kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan melawan paham radikalisme dan terorisme. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi