Konflik Rohingnya, Jangan Timbulkan Permusuhan dan Kebencian Agama Tertentu di Indonesia

Senin, 04 September 2017 : 23.35
Ketua Majelis KAHMI Denpasar, Achmad Baidhowi didampingi Sekretaris Majelis Daerah KAHMI Denpasar, Ragil Armando
DENPASAR – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Denpasar menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap terjadinya tragedi kemanusiaan di Myanmar yang menimpa etnis Rohingya.

Ketua Majelis Daerah KAHMI Denpasar, Achmad Baidhowi mengatakan tragedi kemanusiaan tersebut merupakan perhatian bagi seluruh dunia internasioal, termasuk KAHMI Denpasar.

“Persoalan Rohingnya ini sudah menjadi perhatian internasional. Ini harus dilihat secara proporsional dan obyektif,” katanya di Sekeretariat KAHMI Denpasar, Denpasar, Senin (4/9/2017). Pihaknya secara khusus meminta Pemerintah Indonesia untuk berperan aktif dalam penyelesaian tragedi tersebut.

Sebagai sebuah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dalam berdemokrasi, membuat Indonesia menjunjung tinggi nilai politik bebas aktif seperti tercantum dalam pembukaan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni UUD 1945.

"Hal ini membuat  Indonesia harus berperan aktif dalam menjaga ketertiban  dunia, salah satunya mencari solusi atas tragedi kemanusiaan di Myanmar yang menimpa etnis minoritas Rohingya,” terangnya.

Tragedi Rohingnya ini harus secara fokus dilihat dalam konteks persoalan kemanusiaan. Bahkan, Obay sapaan akrabnya meminta seluruh elemen bangsa, khususnya di Bali agar tidak menarik persoalan tersebut ke dalam ranah kebencian terhadap suatu agama tertentu, khususnya di Indonesia.

“Menurut kami, persoalan ini harus secara fokus dilihat dalam konteks persoalan kemanusiaan semata. Kami meminta semua elemen bangsa agar tidak membawa tragedi ini kepada sebuah kebencian terhadap suatu agama tertentu di Indonesia. Agar tidak menambah persoalan bangsa ini,” pintanya.

Apalagi pihaknya meyakini, seluruh agama yang ada di dunia memiliki nilai-nilai kebenaran universal yang menolak terhadap segala bentuk kekerasan atas nama apapun.

“Hal ini karena kita semua meyakini bahwa semua agama menolak kekerasan dan semua pemeluk agama di seluruh belahan dunia adalah bersaudara (Ukhuwah Basyariah),” terangnya.

Kepada seluruh elemen umat beragama di Indonesia diharapkan melakukan doa bersama kepada segenap elemen umat beragama untuk mengakhiri berbagai penjajahan terhadap nilai-nilai kemanusiaan di era globalisasi.

“Atas dasar kemanusiaan kami mengajak kepada seluruh elemen umat di Nusantara untuk berdoa bersama menurut agama masing-masing agar penjajahan di atas dunia pada era modern ini segera berakhir dan tidak akan pernah terjadi lagi,” paparnya.

Selain itu, mengajak seluruh elemen masyarakat yang ada di Bali untuk menggalang aliansi untuk menggalang bantuan kemanusiaan kepada etnis Rohingya baik yang berada di pengungsian maupun yang berada di Myanmar.

“Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat yang ada, termasuk berbagai ormas baik itu ormas keagamaan dan kepemudaan untuk menggalang aliansi taktis untuk menggalang bantuan kemanusiaan kepada etnis Rohingnya baik yang berada di Myamnar maupun di pengungsian,” ungkap mantan Ketua HMI Cabang Denpasar periode 2006-2007 tersebut.

Sekretaris Majelis Daerah KAHMI Denpasar, Ragil Armando mengungkapkan dalam waktu dekat akan membuka posko bantuan kemanusiaan di Denpasar.

Untuk itu, segera melakukan komunikasi dengan berbagai pihak yang terkait, seperti Palang Merah Indonesia (PMI), Kementerian Luar Negeri RI, dan berbagai lembaga lainnya.

“Kami akan buka posko bantuan kemanusiaan peduli Rohingnya. Jadi bagi saudara-saudara yang ingin menyalurkan bantuan bisa lewat kami. Kami akan menjajaki kerjasama dengan berbagai lembaga kemanusiaan di Indonesia, serta Kemenlu RI,” tandasnya.

Untuk itu, Kahmi Denpasar menyampaikan sikap sebagai berikut:
  1. Mengutuk tindakan genosida yang dilakukan oleh militer Myanmar yang terjadi pada etnis Rohingya, hal ini sudah menjadi tragedi kemanusiaan dan harus dihentikan sesegera mungkin;
  2. Menuntut PBB untuk memberikan sanksi terhadap Pemerintah Myanmar serta mendesak dunia internasional guna melakukan penuntutan kepada Internasional Criminal Court  (ICC) yang bermarkas di Den Haag, Belanda untuk mengeluarkan perintah penangkapan Pimpinan Militer Myanmar JENDERAL MIN AUNG HLAING  yang di duga telah memberikan perintah perburuan dan pembantaian etnis Rohingya;
  3. Mengusulkan untuk mencabut hadian Nobel Perdamaian yang pernah diterima Aung San Syu Ki di tahun 1991, serta mengganti dengan keranda sebagai simbol telah matinya nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian dan demokrasi;
  4. Menuntut Pemerintah Myanmar untuk memberikan dan mengakui status kewarganegaraan kepada etnis Rohingya, seperti yang tercantum dalam  Pasal 15 dari Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia 1948 menyatakan “Setiap orang berhak mempunyai kewarganegaraan. Tak seorangpun boleh dibatalkan kewarganegaraannya secara sewenang-wenang atau ditolak haknya untuk merubah kewarganegaraannya.”;
  5. Menuntut Pemerintah Myanmar untuk memberikan akses seluas-luasnya kepada tim-tim bantuan kemanusiaan internasional;
  6. Meminta kepada negara-negara tetangga Myanmar seperti Republik Bangladesh dan negara-negara yang tergabung di dalam ASEAN, termasuk Republik Indonesia guna membuka akses agar pengungsi Rohingya bisa masuk untuk sementara waktu agar terhindar dari pembantaian dan perburuan tentara dan milisi Myanmar;
  7. Mengajak seluruh elemen lembaga-lembaga kemanusiaan untuk berpartisipasi dalam mengirimkan bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, dan lain sebagainya;
  8. Meminta pemerintah Republik Indonesia memutus kerjasama di berbagai bidang yang sudah dan akan dijalankan dengan pemerintah Republik Persatuan Myanmar dan mempersona non gratakan jajaran Korps Diplomatik Republik Persatuan Myanmar;
  9. Meminta PBB untuk mengirimkan kontingen peacekeeping forces (pasukan perdamaian) guna menjaga stabilitas politik dan mencegah genosida di Republik Persatuan Myanmar;
  10. Mendorong negara-negara PBB dan OKI (Organisasi Konferensi Islam) untuk sesegera mungkin menggelar pertemuan khusus untuk membahas Nasib etnis Rohingya sekaligus menekan Myanmar untuk segera mengakhiri aksi Genosida tersebut.
(rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi