Diiringi Gamelan, Tim SAR Temukan Nenek 78 Tahun di Dasar Jurang

Kamis, 31 Agustus 2017 : 12.41
Tim SAR mengevakuasi jasad nenek Kenyur di dasar jurang kawasan Ubud, Gianyar Bali/foto:sar dps
BADUNG - Tim SAR gabungan berhasil menemukan keberadaan Ni Made Kenyur yang dilaporkan hilang selama 17 hari dalam keadaan sudah meninggal dunia di dasar jurang sedalam 30 meter di Payangan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Penemuan jasad nenek 78 tahun yang hilang saat mencari daun sirih di Petang sejak Senin (14/8) berawal dari kecurigaan warga yang mencium bau busuk menyengat.

Mendapat laporan itu, Tim rescue Kantor SAR Denpasar langsung bergerak dari Payangan, Ubud menuju titik dicurigai ada tanda-tanda keberadaan korban sekitar pukul 08.30 Wita.

"Pukul 09.14 Wita jenasah Kenyur ditemukan di bawah jurang Beringin Kembar dengan kedalaman jurang sekitar 30 meter," jelas Kepala Kantor SAR Denpasar Ketut Gede Ardana, Kamis (31/8/2017).

Diungkapkannya, posisi tepi jurang itu berdekatan gubuk tempat ditemukannya kain korban. Pukul 10.10 Wita jenasahnya berhasil diangkat dan selanjutnya dievakuasi menuju ambulance BPBD untuk dibawa ke rumah duka.

Sebelumnya diberitakan, seorang nenek bernama Ni Made Kenyur meninggalkan rumah sejak Minggu (13/8) dan berpamitan kepada keluarga hendak mencari daun sirih.

Namun hingga malam korban tak kunjung kembali sehingga dilaporkan ke petugas hingga Basarnas Kantor SAR Denpasar mendapatkan informasi tentang kejadian tersebut dari keluarga korban, Wayan Sugiarta pada Senin (14/8) malam.

Pencarian sejak pagi hari yang dilakukan pihak keluarga, masyarakat, dan instansi setempat tak membuahkan hasil.

Laporan yang diperoleh, nenek itu adalah warga Banjar Sekar Mukti, Desa Pangsang, Kecamatan Petang, Badung. Terakhir telihat ketika meninggalkan rumah, Ni Made Kenyur mengenakan kamen (kain).

Tim rescue dari Kantor SAR Denpasar diberangkatkan dilengkapi peralatan mountenering dan medis.

Petugas cukup kesulitan mendekat lokasi karena medan yang dilalui dalam proses pencarian dikelilingi pohon-pohon rindang dan jalan yang berundak-undak hingga menyisiri jurang.

Pihak keluarga dan masyarakat juga menggunakan cara tradisional dengan memainkan gamelan, yang menurut kepercayaan lokal dapat mengembalikan korban jika memang ada pengaruh mistis. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi