Terpanjang, Kain Tenun Ikat Jepara Motif Nusantara Raih MURI

Senin, 17 Juli 2017 : 17.24
JEPARA - Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) memberikan pernghargaan terhadap kain tenun ikat khas Kabupaten Jepara, Tenun Troso sebagai kain tenun terpanjang.

Dengan demikian, resmi tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) akhir pekan lalu. Tenun ikat Troso tercatat di MURI melalui karya Kain Tenun Ikat Motif Nusantara Terpanjang, yakni mencapai 217,4 meter.

Hal itu ditandai penyerahan piagam penghargaan diserahkan Eksekutif Manajer MURI, Sri Widayati, kepada kepada Bupati Kabupaten Jepara KH. Ahmad Marzuqi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Troso dan Universitas Muria Kudus (UMK) yang diterima langsung Rektor Dr. Suparnyo.

Dikatakan, rekor ini menumbangkan rekor sebelumnya, yakni kain tenun songket terpanjang yang ditorehkan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak pada 28 Oktober 2014. "Rekor kain tenun songket Pemkot Pontianak waktu itu, dengan panjang 161 meter,'' terangnya dalam penganugerahan MURI yang dirangkai dalam ''Troso Festival 2017''.

Sri Widayati menjelaskan, Kain Tenun Ikat Motif Nusantara Terpanjang tanpa putus ini terdiri atas 20 motif Nusantara dan tercatat sebagai rekor ke-7.994 rekor dunia ini bukan rekor MURI pertama yang ditorehkan Kabupaten Jepara.

Sebelumnya, rekor di antaranya pawai membawa lampion dengan peserta terbanyak, konvoi becak dengan 1.110 peserta, minum dawet Mantingan dengan peserta terbanyak, dan mengukir dengan peserta terbanyak.

Acara dihadiri Dr. H. Noor Ahmad MA. (wakil ketua komisi VIII DPR RI), M. Arif Sambado SE. (Disperindag Jateng), pimpinan DPRD Jepara, pejabat teras Jepara, pimpinan UMK dan dihadiri ribuan masyarakat.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan M. Arif Sambado, mengapresiasi gelaran Troso Festival 2017, yang antara lain diisi dengan beragam lomba, pentas seni budaya, Troso carnival hingga peragaan busana.

"Saya mendukung event-event kreatif seperti ini, karena sangat bagus untuk mendorong  tumbuh dan berkembangnya industri kreatif di Jateng, khususnya Tenun Troso di Jepara," tegas Ganjar. .

Industri kreatif seperti Tenun Troso, merupakan kearifan lokal yang harus di-uri-uri agar tetap lestari. "Konsep Troso Festival juga bagus, karena memberi ruang masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas diri melalui kompetisi, dan mengenang kembali serta melestarikan dolanan anak," paparnya.

Suparnyo, mengemukakan, UMK melalui pusat studi UMKM yang dimiliki, telah mengambil sumbangsih dalam rangka ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya Tenun Troso dan perluasan pasarnya.

''UMK bersama perajin Troso mendorong perluasan paras Tenun Troso hingga Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. Selanjutnya, UMK akan mengajak pelaku usaha ke India, untuk mencari solusi terkait perbenangan. Benang merupakan bahan baku penting pembuatan tenun ikat Troso,'' imbuhnya. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi