Perkuat Kebhinekaan, Festival Layang-layang Sanur Usung Tokoh Pewayangan

Kamis, 13 Juli 2017 : 06.38
DENPASAR - Dalam memeriahkan Sanur Village Festival 2017 akan digelar festival layang-layang namun berbeda dengan ajang sebelumnya kali ini mengusung tema tokoh-tokoh pewayangan

Para peserta nasional tahun ini lebih disuguhkan pada figur-figur tokoh wayang kulit sebagai upaya mempertajam bahasa visualnya. Bima, Kresna, Hanoman, Gatotkaca, Dasamuka hingga punakawan.

Ditampilkannya tokoh pewayangan itu dsebagai penghormatan tradisi budaya luhur yang berbicara secara universal. Layang-layang tradisional baik khas Sanur maupun pada umumnya seperti bebean, pucukan, dan janggan tetap dipamerkan serta dikompetisikan, termasuk karya inovatif dan kontemporer.

Figur wayang tidak lagi terkesan memiliki jarak seperti pada kelir, karena komposisi secara visual cenderung mengikuti ruang aerodinamis yang simetris, serta tampil dengan komposisi yang lebih bebas pada langit biru.

Layang-layang ini memang mengolah figur-figur wayang, tapi karena langit sebagai kelir dengan jarak pandang yang cukup jauh, maka ukuran wayang telah berubah dari pakem sebenarnya.

Kadek Armika, kreator sekaligus master layang-layang Sanur mengatakan Sutasoma dengan filosofi luhur sebagai bingkai pameran layang-layang merupakan upaya menghadirkan kembali memori kultural dengan prinsip keseimbangan yang merupakan salah satu ciri budaya luhur kita.

Jelas dia, wayang kulit sebagai bentuk penerjemahan budaya luhur yang memiliki kedalaman tentang hakekat kehidupan, diangkat kembali dalam memaknai kekuatan itu, selanjutnya menjadi bagian inspirasi dalam melihat banyak aspek realita saat ini.

"Hakikat Bhinneka Tunggal Ika akan terlihat dari peserta yang berbeda-beda dari berbagai pelosok, baik daerah, suku, agama dan kepercayaan, dan lebih-lebih peserta internasional. Inilah bukti bahwa layang-layang mampu berbicara secara universal yang tidak hanya pada tataran estetika visual," kata Kadek.

Ketua Umum SVF Ida Bagus Gde Sidharta Putra mengatakan potensi layang-layang di Sanur yang sudah dikenal dunia bahkan menjadi sirkuit layang-layang internasional dapat dibarengi dengan koneksitas pada industri kreatif dan pariwisata.

Pada bulan musim layang-layang setiap hotel dapat memamerkan layang-layang yang dapat menjadi ikon baru bagi dunia pariwisata.

Ia yakin akan terjadi interaksi antara wisatawan dengan layang-layang yang mereka lihat. Setelah itu, peluang menciptakan produk ikutan dari pernak-pernik yang menarik sampai layang-layang dapat dipasarkan secara langsung.

"Layang-layang bukan hanya menjadi kegemaran maupun keriangan saja, namun lebih dari itu secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Ini yang sedang dirancang Sanur Village Festival, meskipun pada kenyataannya transaksi bisnis dari layang-layang sudah berjalan dengan sendirinya," tambah Gusde, sapaannya.

Gusde mengapresiasi upaya para kreator dan pelayang Sanur yang telah menjadikan momentum festival tahun ini lebih semarak dan memenuhi tuntutan standar internasional. (gek)
Berita Terbaru
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi