Dewan Kecam Aplikasi Berbahasa Bali Gunakan Kata-kata Tak Sopan

Jumat, 14 Juli 2017 : 06.08
Aplikasi id.testOny.com
DENPASAR - Kalangan wakil rakyat mengecam aplikasi id.TestOny.com yang menggunakan Bahasa Bali yang sedang viral di Facebook belakangan ini namun menggunakan kata-kata tak senonoh alias tak sopan.

Dalam layanan aplikasi ini, menyediakan banyak pertanyaan kemudian pengguna diminta login ke facebook, yang ketika diklik jawaban yang muncul kata-kata kasar, tak senonoh bahkan kerap memakai kata-kata berkonotasi porno.

Meskipun, mereka mengapresiasi pembuat aplikasi karena bisa menggunakan Bahasa Bali. Hanya saja, mereka terusik dengan aplikasi berbahasa Bali yang lagi viral di medsos itu namun pemilihan kata-katanya cenderung kasar dan cabul.

"Kami mengapresiasi kemampuan IT anak muda Bali, tapi gunakan bahasa Bali yang lebih sopan," ucap Anggota DPRD Bali IGA Diah Werdhi Srikandi WS dalam pesan Whatsappnya diterima wartawan, Kamis (13/7/2017).

Menurutnya, penggunaan Bahasa Bali semacam itu Tidak baik jika dikonsumsi publik. Pembuat aplikasi juga perlu memperhatikan dampak ke depannya untuk perkembangan Bahasa Bali.

Dia mengingatkan, jangan pernah bangga ketika Bahasa Bali justru menjadi bahan tertawaan dan olok-olokan.

Anggota FPDIP DPRD Bali Diah Srikandi
"Sebagai generasi muda kita harus jaga dan lestarikan Bahasa Bali dengan baik, benar dan santun," kata Anggota Fraksi PDIP itu.

Pantauan Medsoa, sejumlah pemilik akun facebook menampilkan kata-kata tak senonoh yang muncul pada aplikasi tersebut, seperti pertanyaan "Mongkan gede barang ci?", aplikasi itu menampilkan jawaban "Barang ci gede care timun, kuat dan tahan lama" dan seterusnya.

Penggunaan kata-kata tak senonoh itu berdampak buruk bagi anak-anak yang membacanya. "Jadi hasil aplikasi ada yang kasar, cabul dan meremehkan. Sangat tidak elok, apalagi medsos juga dikonsumsi anak-anak," katanya Anggota Komisi III DPRD Bali dari Dapil Jembrana ini.

Karenanya, pembuat dan pemakai aplikasi itu perlu diingatkan agar ke depannya tidak berdampak buruk. "Perlu memberikan edukasi, menghimbau dan mengingatkan. Jika hal-hal yang tidak elok ini dibiarkan akan dianggap biasa," demikian Diah. (rhm)
Berita Terbaru
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi