Banyak Objek Wisata di Bali Belum Aplikasikan Transaksi Nontunai

Jumat, 28 Juli 2017 : 19.35
Seminar transaksi ontunai meningkatkan efisiensi pariwisata Bali yang digelar Harian Bisnis Indonesia di Denpasar
DENPASAR - Meski menjadi daerah tujuan pariwisata internasional namun obyek wisata di Pulau Bali belum banyak yang menerapkan transaksi nontunai sehingga tidak efisien dan rawan terjadi penyimpangan.

Karenanya, Deputi Direktur Kepala Kantor Perwakilan Bank Bali Azka Subhan mengharapkan sejumlah objek wisata di Pulau Bali dapat mengadopsi sistem pembayaran nontunai.

Diharapkan objek wisata tersebut memasang peralatan seperti gerbang tol otomatis (GTO) yang terpasang di jalan tol.

"Sebenarnya sektor apapun itu semakin banyak nontunai akan terjadi efisiensi," papar Azka dalam seminar "transaksi nontunai meningkatkan efisiensi pariwisata Bali" yang digelar Harian Bisnis Indonesia di Denpasar, Jumat (28/7/2017). .

Pihaknya sebagai mediator, tentunya siap bergandengan tangan dengan pemprov, dinas pariwisata, dan dinas pariwisata untuk menerapkan sistem tersebut..

Berbagai upaya dalam mendorong pemda menerapkan transaksi nontunai sudah dilakukan Bank Indonesia BI sejak dua tahun lalu diantaranya menggandeng Pemkot Denpasar agar menerapkan sistem pembayaran ini.

Dibandingkan DKI Jakarta, diakui Azka Bali masih tertinggal dalam hal penerapan transaksi non tunau. Padahal, transaksi nontunai ini akan lebih efektif apabila ada paksaan dari pemerintah setempat.

BI pernah melakukan survei diketahui, sekira 70%, sistem ini bermanfaat tetapi implementasi tidak semulus dan semudah yang diharapkan.

Atas kondisi ini, Bank Mandiri Regional XI Bali Nusra menyatakan kesiapannya mendukung program pemerintah menerapkan transaksi nontunai di sejumlah objek wisata di Bali untuk meningkatkan efisiensi.

"Selama ini pihaknya sudah mendukung transaksi nontunai di bisnis hotel restoran dan kafe (horeka), tetapi ke depan akan merambah sejumlah objek wisata," ujar Regional Transaction & Consumer Banking Head Bank Mandiri Regional IX Bali dan Nusra Endra Wahyudi dalam seminar tersebut.

Pihaknya memastikan, ke depan siap dan harus siap untuk bersama-sama pemerintah daerah dan pengelola obyek wisata dalam mengaplikasikan sistem transaksi nontunai sebagaimana diharapkan pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia.

Hadir dalam diskusi tersebut, Deputi Direktur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Azka Subhan, dan Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali Gusti Ketut Sumardayasa.

Endra mencontohan jika kebiasaan masyarakat mengalami tren perubahan, jika dulunya ketika seseorang mengantre di bank sembari menonton televisi sekarang berubah memilih melihat gadget mereka.

Hal itu, menutut kesiapan infrastruktur yang memadai yang mesti disiapkab pihak bank dalam layanan internet nirkabel. Pendek kata, perbankan wajib bertransformasi menyediakan produk digitalisasi yang mendukung kebutuhan pelanggan atau konsumen..

Dalam amatannnya, baru sedikit objek wisata yang bekerja sama dengan bank BUMN ini mengadopsi transaksi nontunai. Untuk itu, perlu dioptimalkan lagi sistem pembayaran baik menggunakan kartu kredit, kartu debit maupun uang elektronik.

"Kami menyambut positif apabila ada objek wisata meminta Bank Mandiri membantu infrastruktur transaksi nontunai, karena juga akan membantu bank dibandingkan harus membangun mesin ATM," sambung Endra.

Bank Mandiri melansir data frekuensi transaksi nontunai menggunakan kartu e-money pada periode Januari-Juni mencapai 221,1 juta transaksi tumbuh 33,1% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Adapun nilai transaksinya sepanjang periode itu mencapai Rp 2,54 triliun, tumbuh 53,4% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp1,66 triliun. "Total jumlah kartu berlogo e-money yang telah diterbitkan Bank Mandiri sebanyak 9,6 juta kartu di seluruh Indonesia," sebutnya.

Pembicara lainnya Ketua Aprindo Bali Gusti Ketut Sumardaya menilai transaksi nontunai terbukti produktivitas pelaku usaha sebagaimana yang dilihat di usaha ritel.

Kata Sumardaya, pemanfaatan transaksi nontunai akan menghemat biaya pengiriman uang, dan yang utama mengefektifkan bagi perusahaan untuk bertransaksi hingga mengurangi ancaman kriminalitas.

"Anggota Aprindo Bali yang telah melakukab transaksi nontunainya masih sekitar 30% dari keseluruhan transaksi," imbuhnya.

Keuntungan lainnya dalam transaksi nontunai, bisa lebih singkat, buat sederhaa dan tidak perlu cari uang kecil. Sebut saja, transfer e-banking dari Lombok kesini akan mudah dibandingkan dengan transaksi yang harus membawa uang tunau ke sana kemari.

Transaksi nontunai ini harus terus didorong oleh semua pihak baik perbankan hingga pemerintah daerah dan masyarakat di Bali.

Apalagi, transaksi model ini akan dapat membantu sejumlah pengelola objek wisata meningkatkan pendapatan mereka yang jika mengandalkan pembayaran tunai rentan dari tindakan kriminalitas.

Selain itu, pemanfaatan pembayaran ini akan dapat membantu mendata pelanggan, karena setiap transaksi dapat terekam secara otomatis sehingga sangat valid.

Dengan begitu, potensi kecurangan jika membayar secara tunai sangat bisa dihindarkan. Sumardaya mendorong objek wisata seperti Tanah Lot sudah selayaknya mengaplikasikan sistem tersebut.

Hanya saja kendala masih dihadapi dalam transaksi nontunai dari sisi penyedia layanan nontunai serta jaringan telekomunikasi mengatasi masih seringnya terjadi kegagalan bertransaksi diakibatkan jaringan dan sistem. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi