Tradisi Dugderan Cara Warga Semarang Sambut Ramadan

Sabtu, 27 Mei 2017 : 11.37
SEMARANG - Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Semarang, Lantamal V Kolonel Laut (P) Hanarko Djodi Pamungkas menghadiri Upacara Adat Kirab Budaya Dugderan jelang Ramadhan yang digelar di halaman Balai Kota Semarang, Jawa Tengah.

Ajang tahunan dihadiri Wali Kota Semarang H. Hendrar Prihadi sekaligus memimpin upacara Kirab Budaya. Tampak hadir Wakil Walikota Semarang, Sekda Kota Semarang, Ketua DPRD Kota Semarang, Muspida Kota Semarang, SKPD Kota Semarang, serta tamu undangan lainnya.

Menurut Danlanal upacara Kirab Budaya Dukderan yang selalu dilaksanakan di setiap tahunnya adalah merupakan sebuah kegiatan tradisi turun-temurun yang diperkirakan sudah di mulai pada tahun 1881 M di saat Kota Semarang dipimpin oleh Bupati R.M.T.A Purbaningrat.

"Kegiatan tersebut di gelar dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Romadhon," katanya baru-baru ini.

Ada 1500 orang terlibat dalam kegiatan sebagai peserta Upacara dan asebagai penari Kolosal, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang sebagai Panitia pelaksana kegiatan tersebut. Tema acara Dukderan 1438 H /2017 tahun ini adalah “Meneguhkan Tekad Semarang Hebat tampak”.

Wali Kota Semarang Prihadi dalam Sambutannya menyampaikan acara Dugderan 1438 H/2017 M ini adalah suatu perayaan yang dilaksanakan tiap menjelang datangnya bulan Ramadhan. Upacara ini merupakan cerminan dari perpaduan tiga etnis yang mendominasi masyarakat Semarang yakni etnis Jawa, Tionghoa dan Arab.

Nama “Dugderan” diambil dari kata “dugder” yang berasal dari kata “dug” (bunyi bedug yang ditabuh) dan “der” (bunyi tembakan meriam).

Bunyi “dug” dan “der” tersebut sebagai pertanda akan datangnya awal Ramadhan. Upacara ini dilatarbelakangi perbedaan pendapat dalam masyarakat mengenai awal dimulainya puasa pada bulan suci Ramadhan.

Oleh karenaya, dicapailah suatu kesepakatan menyamakan persepsi masyarakat dalam menentukan awal Ramadhan yakni dengan menabuh bedug di Masjid Agung Kauman dan meriam di halaman kabupaten dan dibunyikan masing-masing tiga kali dan dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di masjid.

Selain itu dalam upacara dugderan terdapat ikon berupa “warak ngendhog” berwujud hewan berkaki empat (kambing) dengan kepala mirip naga. Warak ngendhog memperlihatkan adanya perpaduan kultur Arab, Islam, Jawa, dan Tionghoa.

Keberadaan warak ngendhog tersebut memperlihatkan adanya keterkaitan yang harmonis antar-etnis sehingga membuka jalinan kontak budaya yang lebih intensif sehingga memungkinkan adanya proses akulturasi.

Hendrar, sapaan Wali Kota Semarang juga menegaskan dengan meneguhkan tekad dalam pelaksanaan Karnaval Dugderan ini, Ia mengajak masyarakat semarang untuk teguhkan tekad menjadikan Masyarakat Semarang Hebat dan membawa kesejahteraan untuk kita bersama sama

Selesai pelaksanaan upacara kegiatan dilanjutkan dengan Kirab atau Karnaval keliling Kota Semarang yang star dimulai dari Balai Kota Semarang dan berakhir di Masjid Agung Semarang. (des)
Berita Terbaru
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi