Serasa Mandi Es, Pesona Mata Air Pemandian Mumbul Buleleng

Rabu, 24 Mei 2017 : 19.08
Pemandian Mumbul Anturan di Kabupaten Buleleng selalu ramai oleh pengunjung
BULELENG - Bagi Anda yang ingin menjajal kekuatan mandi dengan air dingin serasa mandi es cobalah datang ke pemandian Mumbul Anturan di Kabupaten Buleleng Bali. Di pemandian ini para prajuru adat Mumbul mampu menyulapnya menjadi obyek wisata air menarik.

Desa Adat dan Dinas Anturan, mengelola kolam yang berukuran 21x17 meter di mana terdapat 11 sumber mata air yang begitu deras dari dalam tanah. Konon,di kawasan ini, dahuu merupakan daerah kumuh dan memiliki sejarah kelam.

Meski demikian berkat ide-ide Desa Adat setempat, bisa disulap menjadi obyek wisata memiliki pesona tersendiri. Banyaknya obyek wisata di Bali Utara tepatnya Kabupaten Buleleng, kini di masing - masing desa mulai menggarap wilayahnya guna membangkitkan sumber alam yang dimiliki.

Semakin banyak obyek wisata mulai digarap di tingkat desa, pariwisata Buleleng akan lebih maju dan berkembang pesat. Kabupaten Buleleng merupakan wilayah terluas dan mempunyai jumlah penduduk terbesar di Bali.

Masyarakat mendapat suguhan wisata menarik seperti Wisata Permandian Air Sanih di Buleleng Timur tepatnya Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan. Demikian juga permandian Air Panas Banjar yang terletak di Kecamatan Banjar dan Permandian Mumbul Desa Anturan Kecamatan Buleleng yang berlokasi di desa Anturan.

Berbeda dengan permandian lainya di Kabupaten Buleleng, Mumbul Desa Anturan yang masih merupakan kawasan Pariwisata Lovina kini mulai banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah,

Permandian yang baru dibangun beberapa tahun lalu oleh desa Adat dan desa Dinas melalui berbagai bantuan seperti dana hibah provinsi dan anggaran pembangunan Desa Adat yang merupakan 20% dari hasil Lembaga Adat .

Kini, ratusan pengunjung silih berganti datang dan memadati kolam tersebut, mereka datang bukan saja sekedar mandi atau bermain Air tetapi juga melakukan pembersihan diri dari air tersebut yang diyakini mampu menyembuhkan segala penyakit.

Dari sebelas mata air yang ada, salah satunya terdapat air yang teresa sangat dingin seperti mandi dengan Es. Posisi mata air tersebut berada tepat di bawah pohon besar yang tumbuh disamping permandian.

Para sesepuh warga Desa Anturan menuturkan, pemandian tersebut baru diketahui setelah berdirinya Desa Anturan, Kala itu, masyarakat desa setempat bergelut sebagai petani ladan dan sawah mereka berduyun - duyun mencari air guna mengairi sawah mereka saat mengalami kekeringan.

Konon Penirtaan dam Permandian Mumbul tersebut dihuni oleh mahkluk cantik berjenis kelamin perempuan dan dan memiliki rambut yang sangat panjang. Dibagian timur terdapat tempat persehayangan merupakan Induk dari mata air tersebut masyarakat atau desa adat sering menggunakan tempat tersebut untuk Melukat (Pembersihan) dalam rangkain keagamaan.

Seorang pengunjung Gede Arbawa menuturkan pernah mengunjungi kolam tersebut. Masa kecilnya mandi bersama sang ayah yang yang pernah menjadi kepala Desa Anturan tahun 1990 yang telah meninggal.

Jika melihat perbedaan dahulu, mumbul saat ini sangatlah jauh sekali. Jika dahulu sangat kumuh, meski tempat suci namun kurang penatataan. Kata dia, sekarang sudah sangat bagus. Sebagai warga merasa bangga adanya permandian seperti ini, bisa memenuhi keinginan masyarakat yang ingin mencari kolam untuk mandi.

"Sekarang desa sudah memiliki pemandian, pasti ini akan lebih ramai lagi," katanya. Apalagi tempatnya setrategis hanya beberapa meter dari jalan raya utama sehingga masyarakat pun tidak perlu mandi ke hotel apalagi biayanya mahal.

Arbawa menuturkan terkait banyaknya bansos pemerintah pusat diharapkan agar desa mengelolanya dengan transparan. Diharapkan bantuan tersebut bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti Permandian Mumbul yang dibangun melalui berapa Bansos Provensi Bali .

Kelian Adat desa Pakraman Anturan I Ketut Mangku menyebutkan, terwujudnya pemandian itu lewat perjuangan panjang, bahkan, sempat berseteru dengan salah satu warga yang kebetulan lokasi Mata Air tersebut berada di warga tersebut.

Beruntung, setelah mediasi hingga kasus tersebut memasuki ranah hukum akhirnya menemukan solusi. Penirtaan itu dilepas pemilik tanah dan menjadi milik Adat Anturan.

Pemilik tanah I Nyoman Sumatra mantan pegawai Kejaksaan Singaraja mengungkapkan ingin membangun desa secara bersama. Untuk jalan dari timur menuju ke permadian yang dahulu bengkok sekarang beberapa tanah diberikan untuk akses jalan ke lokasi.

"Rencananya dari timur akan dibuatkan Gapura oleh desa Adat, intinya kami tidak ingin membangun masalah kami ingin membangun desa, " ucap Nyoman Sumatra ditemui, Rabu (24/5/17).

Perjuru Adat dan Dines turut dilibatkan dalma membangun permandian itu yang merupakan warisan, leluhur yang harus dilestarikan bersama. Disamping Permandian itu merupakan tempat Spiritual yang sering digunakan masyarakat untuk melukat (Pembersihan) juga patut dijaga.

Mata Airnya menyebar ada sebelas titik yang di kolam paling barat itu tiga titik, kolam tengah empat dan di timuran tempat Pelinggih ada empat juga. Karena ini sudah menjadi milik desa, nanti itu juga bisa dipakai tempat rekreasimasyarakat luas, " tutup Mangku.

Ketika mulai pembangunan pada Mumbul tersebut, kata Mangku seorang perempuan muda menghampiri di lokasi mengaku warga luar Buleleng yang ingin mencari air tersebut. Kata perempuan itu, air tersebut adalah yang selama ini ia cari untuk menyembuhkan penyakitnya ada di Penirtaan Mumbul tersebut.

"Toye Niki sampun tiang rereh Jro, Niki aura toye becik pisan, tulung jage enggih," papar Mangku menirukan pengakuan perempuan tersebut. (rhm)
Berita Terbaru
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi