Penyaluran Kredit Minim, Ekonomi Bali Alami Perlambatan

Kamis, 25 Mei 2017 : 00.12
Dirut BPR Lestari Pribadi Budiono
KUTA - Penyaluran kredit perbankan maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Bali tergolong masih minim sehingga kondisi ini mengakibatkan dorongan ke ekonomi daerah mengalami perlambatan.

Direktur Utama BPR Lestari Pribadi Budiono mengakui, ketika kredit yang disalurkan tidak banyak, menyebabkan ekonomi mengalami pelambatan. Sebaliknya, jika penyaluran kredit meningkat atau tinggi akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.

Guna mengatasi situasi seperti ini menurut Pribadi perlu adanya langkah responsif dan progresif yang harusnya didorong regulator atau pengambil kebijakan. Selain itu, perlu langkah serius dari manajemen perbankan masing-masing untuk menggelontorkan dana dalam penyaluran kredit kepada nasabah.

Meski sejatinya ada keinginan untuk menggelontorkan kredit, hanya saja, ada beberapa kendala dihadapi, seperti minimnya permintaan kredit dari masyarakat. Juga, kondisi market atau pasar, yang tidak bisa menjual.

"Ini seperti terjadi di bank-bank besar, sekarang BPR diberlakukan modal inti, jumlahnya bergatung besarnya minimal RP6 Miliar atau Rp8 M di daerah lain seperti di Denpasar minimal Rp14 M.

Tentu saja syarat itu, sangat sulit sekali bagi pelaku BPR. Pasalnya, jumlah industri BPR sekira 1600, kalau dipaksakan untuk mengikuti regulasi tersebut maka bank-bank kecil akan kesulitan.

"Apa yang terjadi, otoritas mendorong ini untuk menarik investor, atau merger," tegas dia di sela Marketing in Indonesia 2017, middle year update di The Trans Resort Bali, Rabu (24/5/17). Hanya, langkah merger bukanlah perkara mudah karena budaya satu dengan lain tidak sama. Mau tidak mau harus ada investor menarik pemodal lain, agar bisa memenuhi modal inti.

Dengan terpenuhi modal intinya yang besar itu, akan bisa bisa mendorong ekspansi yang lebih kuat. Di Bali, kata Pribadi, sejauh ini dia belum mengetahui secara pasti. Namun, ada beberapa BPR yang berada dalam satu grup.

Dalam mengatasi situasi sulit seperti sekarang, BPR Lestari mau tidak mau melakukan strategi dan terobosan program unik dengan tidak mengikuti pesar. Artinya, keluar dari market yang selama ini dilakukan pasar bank-bank besar.

Dicontohkan, jika UKM mengajukan kredit pinjaman RP100 juta sampai Rp miliar, tentunya syarat-syarat yang dipenuhi sangat sulit. Mulai masalah administrasi, perizinan tidak lengkap dan tidak bankabel tidak bisa askses ke bank umum dan bank besar.

"Ketika ada yang tidak bisa akses ke perbankan besar, itulah menjadi kesempatan BPR masuk," tukasnya.

Di pihak lain, dalam rangka memberikan  edukasi kepada nasabah dan klien, BPR Lestari menggelar kegiatan bertajuk "Business Round Table" menghadirkan Pengamat Ekonomi Faisal Basri, tokoh Marketing Hermawan Kertajaya dan Alex P Chandra dari BPR Lestari.

"Ini kegiatan rutin untuk edukasi dari BPR Lestari kepada masyarakat dan kliennya, agar mereka bisa mempersiapkan diri dengan isu-isu dan hal-hal baru dalam industri perbankan maupun kaca mata pengamat ekonomi," tuturnya.

Pihaknya mengharapkan lewat kegiatan ini bisa mendapatkan trik-trik bagaimana menghadapi situasi sulit seperti sekarang. Ratusan peserta tampak antusias dari kelangan perbankan, perhotelan, perdagangan, properti dan lainnya. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi