Pendekatan HCS Diharapkan Dorong Negara Cegah Deforestasi di Dunia

Rabu, 03 Mei 2017 : 23.49
Co-Chair High Carbon Stock (HCS) Grant Rooman dalam peluncuran HCS Approach & Toolkit di Jimbaran
JIMBARAN - Koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah (LSM) meluncurkan pendekatan HCS Approach & Toolkit Versi 2.0 yang merupakan metodologi gabungan baru yang berlaku secara global untuk melindungi hutan alam dan mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara bertanggung jawab.

Peluncuran digelar, Rabu (3/5/17) di Le Meridien Hotel Jimbaran Badung dihadiri para pemangku kepentingan, NGO, industri kehutanan berbagai belahan dunia.

Grant Rosoman selaku Co-Chair dan High Carbon Stock (HCS) Steering Group mengungkapkan, High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit, sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi.

Hutan yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal harus tetap terjaga dengan baik.

"Membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis," tegas Grant didampingi Petra Meekers (Director of CSR & Sustainable Development), Patrick Anderson (Policy Advisor Forest Peoples Programme) dan Perpetua George dari Wilmar saat sesi jumpa pers.

Metode tersebut diklaim telah berjalan sukses sebagaimana bisa diukur dari adanya implementasi pelaksanaan kerja sama-kerja sama yang melibatkan berbagai pihak baik itu LSM, perusahaan maupun komponen lainnya.

Bahkan, sukses bisa terlihat dari cakupan luasan areal yang telah dikerjasamakan yang begitu luas. HCS tambahnya telah berhasil dilaksanakan di negara-negara Asia dan Afrika.

Disebutkan, ada 8 negara di Afrika yang komit mengadopsi HCS Indonesia sendiri kata dia, metode ini telah mendapat sambutan hangat dari pemerintah kabupaten dan provinsi berdasarkan pendekatan yang telah dilakukan.

Dia mencontohkan Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah, telah meneken komitmen yuridiksi untuk menerapkan pendekatan tersebut.

Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon yang mencakup teknologi baru termasuk penggunaan LiDAR, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil.

Koalisi yang unik ini telah bersatu, dalam menanggapi meningkatnya kekhawatran akan dampak pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa dan hak-hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan.

"Kami menyambut positif diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung," sambung Grant.

Konferensi pers di sela peluncuran HCS di Jimbraran
Dalam kesempatan itu, Patrick Anderson mengatakan dengan kerja sama ini diharapkan hak-hak masyarakat adat dan masyarakat local diakui dan dihormati. Karenannya, persetujuan masyarakat lokal sangat penting untuk pengelolaan hutan.

Ditanya kontribusi didapat masyarakat, kata dia, bermacam-macam  bisa berupa insentif uang, pupuk atau bentuk lainnya seperti pemasaran yang bermanfaat bagi masyarakat.

Senada dengan Patrcik, Petra Meekers yang melihat penggunaan metodelogi tersebut bisa membantu masyarakat agar kebunnya lebih produktif dan menguntungkan sehingga tak perlu terjadi perambahan.

Selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek non-deforest. Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis pada 2015.

Versi baru yang disempurnakan yang dirilis hari ini telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan serta topik-topik baru dan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach.

Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya sebagai hasil dari Kesepakatan Konvergensi antara HCS Approach dan HCS study, pada November 2016 lalu.

Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi