BI Gelar Deseminasi Laporan Perekonomian Indonesia 2016 di Bali

Sabtu, 20 Mei 2017 : 10.23
Yoga Affandi saat briefing media di Kantor Perwakiilan BI Bali
DENPASAR - Bank Indonesia akan menggelar desiminasi Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2016 dan ketentuan BI mengenai Giro Wajib Minimum (GWM) Averaging dan Kegiatan Penerapan Prinsip Kehati-hatian (KPPK).

Selain itu digelar talkshow mengusung tema "Mendorong Alternatif Sumber Pembiayaan Domestik untuk Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan di Kuta 22 Mei 2017". Ada beberapa isu penting yang akan dibahas diantaranya tentang penerapan GWW (Giro Wajib Minimum) Averaging dan perannya dakan mendukung terciptanya stabilitas perekonomian.

Selain itu, perkembangan penerapan kebijkan PPK serta Dampak positif investmen grade bagi Indoenesia. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Yoga Affandi mengungkapkan. beberapa hal yang diuraikan dalam LPI seperti dinamika perekonomian Indonesia sepananjang 2016 yang akan dibahas secara komprehensif.

"Dalam LPI membahas lessons learned dari penguatan ekonomi yang dihadapi para pembuat kebijakan termasuk berbagai agenda yang masih perlu dilanjutkan," jelas Yoga saat briefing media di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali, Jumat (19/5/17).

Ditambahkannya, LPI juga berisi gambaran outlook perekonomian yang diharapkan dapat menjadi referensi dalam melangkah di tahun 2017 dan dalam jangka pendek. Dikatakan, buku LPI merupakan publikasi rutin atau tahunan Bank Indonesia yang diharapkan dapat menjadi rerensi bagi stakeholder domestik dan internasional.

Sementara pada diskusi Talkshow akan menampilkan pembicara berkompeten yakni anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OIK), Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, Asisten Gubernur BI dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Dody Budi Waluyo.

Juga Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal II OJK Djustini Septiana, Presiden Direktur Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir dengan moderator an Hera F Haryn dari CNN Indonesia. Pada bagian lain, Yoga mengungkapkan, BI telah menerapkan peraturan GWM Averaging untuk memperkuat kebijakan moneter.

Kebijakan moneter itu meliputi pemberian feksibilitas dalam pengelolaan likuiditas sehingga meningkatkan efisiensi perbankan. Kemudian, menjadi bantalan suku bunga sehingga mengurangi volatilitas suku bunga di pasar uang.

Tak kalah pentingnya, kebijakan dalam memberikan ruang penempatan likuiditas sehingga bisa mendorong pendalaman pasar keuangan.

Dalam implementasi GWM Averaging primer harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan bertahap dengan memperhatikan berbagai tantangan seperti surplus likuiditas di sistem perbankan dan sebarannya yang tidak merata.

"Juga tantangan minimnya ketersediaan instrumen di pasar uang serta belum meratanya akses bertransaksi antar bank," demikian Yoga. (rhm)
Berita Terbaru
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi