Pemulihan Kerusakan Hutan Gambut Perlu Didukung Ilmu Pengetahuan yang Solid

Kamis, 13 April 2017 : 08.39
hutan gambut di kalimantan (foto:cifor)
BOGOR - Perlindungan dan pemulihan kerusakan lahan gambut akibat kebakaran hutan merupakan suatu proses kompleks yang membutuhkan ilmu pengetahuan solid.

Dalam kerangka itulah, Peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Badan Litbang & Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (FOERDIA) mengadakan diskusi bertema manajemen lahan gambut dan kebakaran hutan, (12/4/17) di kampus CIFOR, Bogor.

Kedua lembaga penelitian ini menganalisa efektivitas kebijakan dan pelaksanaan terkait terjadinya kebakaran dan kabut asap tahun 2015 lalu.

Dalam kesempatan itu, CIFOR dan FOERDIA membahas upaya-upaya yang harus dilakukan untuk memajukan ilmu pengetahuan, termasuk mendukung kebijakan perlindungan lahan gambut dan kegiatan restorasi di Indonesia.

Kegiatan itu juga secara khusus memperdebatkan bagaimana cara terbaik pemantauan kemajuan restorasi lahan gambut; menemukan jalan tengah atas perbedaan angka-angka luasan peta lahan gambut. Kemudian, bagaimana mengukur efektivitas peraturan yang ada, seperti Keputusan Presiden PP 57/2016 tentang tata kelola gambut berkelanjutan.

Berbagai dimensi perlindungan lahan gambut dan restorasi adalah bagian penelitian CIFOR dan FOERDIA. Kedua lembaga ini telah bekerja sama sejak tahun 1997 dan akan terus berkolaborasi untuk menghubungkan hasil penelitian dengan kebijakan untuk dapat diimplementasikan.

Dalam siaran pers CIFOR, diketahui diskusi ini mengawali pertemuan kemitraan ke dua Inisiatif Lahan Gambut Global dan Global Landscapes Forum: Pentingnya Lahan Gambut. Kedua acara global terkait lahan gambut ini akan berlangsung di Indonesia pada bulan Mei.

Lahan gambut berperan penting dalam menyerap stok karbon, diperkirakan memiliki lebih dari 600 Gt karbon. Ketika dikeringkan, lahan ini sangat rentan terhadap kebakaran. Pada saat sama, jutaan petani melakukan praktik-praktik pertanian tidak berkelanjutan sebagai sumber penghidupan mereka.

Peristiwa kebakaran dan asap di Indonesia tahun 2015 menghasilkan 15% emisi karbon dunia selama beberapa minggu di tahun yang sama, mengakibatkan kerugian ekonomi miliaran dolar dan menimbulkan krisis kesehatan masyarakat, sehingga menjadikan isu-isu yang saling bertentangan ini menjadi perhatian internasional. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi