NKRI Butuh Sikap Pengertian dan Saling Memiliki antar Umat

Sabtu, 29 April 2017 : 07.52
SURABAYA - Badan Ekesekutif Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (BEM UNESA) menyelenggarakan dialog "Peran Pemuda: Memperkuat Nilai-Nilai Kebangsaan untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa dan Keutuhan NKRI".

Diskusi digelar Gedung G3 Auditorius Fakultas Ekonomi UNESA menampilkan empat narasumber Moch. Eksan (Anggota Komisi E DPRD Jatim), Muh. Hasan Bisri ( Wakil Ketua PW GP Anshor Jatim ), Nur Syamsyi, S.Pd ( Ketua KPU Kota Surabaya) dan Agus Machfud Fauzi , S.Ag, M.Si. (Dosen Sosiologi Unesa).

Ditegaskan Hasan, Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang kukuh, kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain. Bukan hanya sekedar saling menghormati dan saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain, melainkan, yang lebih dari itu, pentingnya rasa saling memiliki (sense of belonging).

"Rasa saling memiliki harus ada di dalam diri masing-masing kita. Karena di sini hakekat perbedaan," tegasnya, Jumat (28/4/17). Selain kesadaran persatuan, narasumber lain, Eksan menjelaskan akan pentingnya kesadaran nasionalisme pemuda terhadap NKRI khususnya di era globalisasi saat ini.

Selain itu, juga menegaskan akan keniscayaan penyikapan  MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dikatakan juga, penting sebagai pemuda untuk mampu menyaring setiap permasalahan yang terjadi pada saat ini.

Di tengah (MEA), memungkinkan banyaknya pekerja luar yang masuk ke Indonesia dan banyaknya tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai TKI di negara lain, sehingga kita dituntut untuk lebih kompetitif yang tinggi khususnya di negara kita sendiri. "Jangan sampai kita menjadi tamu di negara sendiri," pesannya kepada lebih dari 200 mahasiswa yang hadir.

Nur Syamsyi mengamini pentingnya sara persatuan dan rasa saling memiliki. Di kesempatan tersebut, ia menahmbahkan unsur tersebut dengan pentingnya nilai-nilai demokrasi dalam politik praktis di Indonesia, yang menurutnya belum sesuai harapan membangkitkan spirit sense of belonging.

Dikatakan, peran mahasiswa dalam dunia politik harus lebih ditingkatkan, karena menurutnya, dalam politik membutuhkan mereka yang paham (mahasiswa) untuk bisa ikut memahamkan pedidikan politik bagi masyarakat.

"Ini penting, mengingat politik melalui demokrasi merupakan awal terbentuknya tatanan kebijakan untuk masyarakat dan merupakan awal terbentuknya tatanan kehidupan masyarakat," tegasnya.

Meski demikian, Fauzi mengakui, tantangan pemuda dewasa ini jauh lebih kompleks dari generasi sebelumnya. Menurutnya, pemuda saat ini memiliki sejumlah tantangan yang tidak ringan, dari lingkungan, tekhnologi, persoalan Negara, persoalan dunia, hingga tantangan masa depan.

Namun begitu, ia berharap para pemuda sekarang ini harus memiliki optimism yang tinggi. "Saya berharap, pemuda saat ini musti bersungguh-sungguh memikirkan, dan sekaligus melakukan aksi turun tangan," pungkasnya. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi