FPM Bali Sodorkan Bukti Reklamasi Terselubung di Tahura Ngurah Rai

Selasa, 25 April 2017 : 19.44
FPM beberkan dugaan reklamasi terselubung di Tahura Ngurah Rai (foto:kabarnusa)
DENPASAR - Forum Peduli Mangrove (FPM) Bali menyodorkan sejumlah bukti reklamasi terselubung di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai yang diduga dilakukan tokoh masyarakat Tanjung Benoa Kabupaten Badung.

Menurut Ketua FPM Bali Steve Sumolang,pihaknya merasa perlu memberikan tanggapan atas pernyataan yang disampaikan Bendesa Tanjung Benoa Made Wijaya kepada wartawan belum lama ini, perihal bantahan adanya pembabatan lahan dan reklamasi terselubung di Tahura.

Sebelumnya dalam keterangan resminya, Senin (24/4/17), Wijaya membantah adanya alat berat dan pembabatan pohon mangrove di lokasi Tahura.

"Saya menyampaikan, satu masalah penimbunan, kemarin Wijaya dan pengacara mengatakan bukan penimbunan, melainkan muntig yang sudah ada lama, sehingga bukan reklamasi terselubung," ujar Steve.

Hanya saja, berdasar pemantauan di lokasi 10 April 2017, jelas ada tumpukan pasir dan hal itu merupakan reklamasi terselubung berdasarkan bukti bukti di lokasi dan hasil monitoring. Juga, ditemukan adanya alat berat seperti molen dan tempat bedeng untuk pekerja.

"Kami punya bukti-bukti foto melalui drone, masalahnya itu berada di wilayah Tahura yang merupakan tanah negara, apakah beliau sudah memiliki izin, jika ada dikatakan tanah adat, ternyata lokasinya tanah negara, nanti kita buktikan itu semua, dari foto sudah bisa membuktikan, apa yang kita temukan," tandasnya.

Selain bukti itu, pihaknya memiliku bukti adanya aktivitas penebangan mangrove untuk akses ke dalam selebar 2,5 meter dan sepanjang sekira 500 meter.

Apapun alasannya, aktivitas pemanfaatan di Tahura, harus mengantongi izin sebab itu merupakan tanah yang dilindungi negara. Sehingga, jika ada aktivitas seperti penebangan mangrove seperti itu termasuk tindak pelanggaran.

Karenanya, Stave meminta Wijaya agar secara kesatria, untuk bisa menyelesaikan semua masalah itu nanti di sidang pengadilan yang kasusnya kini masih dalam penyidikan Polda Bali.

Dalam kasus ini, dia menegaskan tidak ada kaitan dengan prokontra Reklamasi Teluk Benoa. Silakan menolak reklamasi, namun dalam masalah ini, pihaknya semata melihat adanya tindak pelanggaran penyerobotan hutan negara, yang mesti diambil tindakan tegas.

Hal sama disampaikan Satgas Monitoring FPM Lanang Sudira, berdasar monitoring bersama petugas polisi hutan dan Dinas Kehutanan Provinsi Bali, menemukan bukti-bukti adanya penebangan mangrove.

"Kami dikagetkan, ada penebangan mangrove untuk membuat akses jalan menuju kegiatan reklamasi terselubung di kawasan hutan mangrove Tahura," tudingnya dalam jumpa pers yang dihadiri pula tokoh lingkungan Made Mangku.

Lanang mengaku sedih, karena mangrove yang ditebang tersebut jenis yang sedang dibahas dunia inernasional yang tengah menggelar kongres mangrove dunia di Bali dihadiri 150 delegasi dari 26 negara.

Pihaknya mengantongi bukti-bukti, adanya penebangan mangrove tanpa izin di kawasan konservasi hutan negara. Juga penimbunan di Pal 8 dan 9, yang bukan merupakan tanah adat melaikan kawasan konservasi Tahura Ngurah Rai sehingga mesti ditindak tegas.

Made Mangku dalam kesempatan itu, mengingatkan agar semua pihak kembali pada komitmen dalam menjaga hutan mangrove di Bali. Apalagi, fungsi hutan mangrove sangat penting dalam menahan gelombang, menahan abrasi, antisipasi nyamuk ke darat, angin barat bisa terdeteksi sehingga tidak menyentuh pesisir dan seterusnya.

"Saya sempat baca, saya melihat ada teman-teman, mencari pembenaran bukan kebenaran," imbuh Mangku. Untuk itu, Mangku berharap semua bisa duduk bersama dan jangan saling tuding. "Hendaknya kita sama-sama membahas berbagai hal yang bertujuan baik untuk Bali kedepannya," demikian Mangku (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi