Inilah Alasan Prabowo Diminta Tetap Pimpin IPSI

Minggu, 04 Desember 2016 : 20.32
DENPASAR - Figur Prabowo Subiyanto masih dikehendaki untuk memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sehingga dalam Musyawarah Nasional (Munas) IPSI di Bali nama mantan Danjen Kopassus itu menjadi calon tunggal untuk kembali menahkodai organisasi tersebut.

Dalam pembukaan Munas IPSI di Denpasar, selain dihadiri para pengurus daerah juga dihadiri Wakil Ketua KONI Sumarno Minggu (4/12/2016).

Ketua Panitia Munas IPSI, Edhy Prabowo membenarkan, sampai saat ini, wacana calon kepemimpinan IPSI tertuju pada sosok Prabowo. Dengan kata lain, Prabowo menjadi kandidat tunggal organisasi tertinggi olah raga pencak silat di Tanah Air itu.

Salah satu agenda Munas adalah pemilihan ketua umum yang baru. Edhy berharap,, proses pemilihan ketua umum bisa berjalan dengan lancar. Sejauh ini, belum ada kandidat lain yang muncul, karena sebagian besar masih berharap kepemimpinan Prabowo dilanjutkan.

"Sebagian besar berharap Pak Prabowo bersedia memimpin IPSI kembali," tandas Ketua Komisi IV DPR RI itu. Saat ini, ada satu calon saja yakni Prabowo. Meski begitu, akan dilihat nanti pada saat pembacaan laporan pertanggungjawaban dan sidang komisi peserta Munas, apakah muncul nama kandidat lain atau tidak.

Disinggung alasan pengurus berbagai perguruan silat di daerah dan pusat mengusung kembali Prabowo. lantaran dinilai sebagai figur yang tepat untuk membesarkan Pencak Silat. "Ya keseriusan, perhatian dan pengurbanan beliau, bisa kita lihatlah, bagaimana membesarkan pencak silat," sambungnya.

Komitmen Prabowo tidak perlu diragukan lagi, karena itu pihaknya berharap bisa merayu Ketua Umum Partai Gerindra itu, bersedia kembali memimpin pencak silat, sebagai olah raga yang juga bagian budaya Indonesia.

Selain itu, dia mengakui sampai saat ini, harus diakui, budaya belum mandiri masih belum hilang, termasuk dalam menghidupkan organisasi pencak silat. "Kita tahu lah, budaya ini, kita belum bisa mandiri, masih butuh figur seperti beliau," sambung Wakil Ketua DPP Partai Gerindra.

Di masa mendatang, demi kemajuan olah raga khususnya pencak silat, negara bisa hadir, tidak hanya memberikan perhatian namun juga dukungan kebijakan anggaran. Dengan begitu, bisa meringankan beban organisasi dalam memajukan pencak silat.

Terkait dukungan kepada calon tunggal Prabowo, tidak berarti kepemimpinan di tubuh IPSI telah mandeg. Sebab, mundur dan majunya kepemimpinan organisasi, tidak bisa dilihat dari calon tunggal atau tidak. Sebab, pergantian pemimpin yang terus menerus, juga tidak menjamin adanya kemajuan. Apalagi, dalam pencak silat lebih melihat pada semangat silaturahmi, kekeluargaan sebagai adat ketimuran.

"Kalau silat bukan budaya demokrasi murni, tetapi musyawarah mufakat, karena itulah yang dijunjung tinggi. Silat yang artinya silaturahmi, kita tidak mau itu, dirusak dalam konteks ditonjolkan suara terbanyak," ucapnya. Yang pasti di IPSI, tetap mengakomodir mendengarkan aspirasi, tetapi tidak ada yang mengintervensi, mengatur semua diserahkan kembali kepada floor atau pemilik suara.

"Kalau Anda mau tanya kesiapan Pak Prabowo, tentunya, secara pribadi beliau ingin istirahat, siapa yang mau mengeluarkan uang sampai belasan miliaran rupiah, siapa yang mau menjamin kegiatan dengan anggaran miliaran, membiayai kegiatan hingga keluar negeri dengan biaya sendiri, tidak mungkin," imbuhnya.

Kata Edhy, Prabowo banyak mengajarkan nilai-nilai pengurbanan sebagaimana ditunjukkan dalam memnbesarkan pencak silat di nusantara.

"Beliau berhak untuk istirahat, berusia di atas 60 tahun, tetapi beliau tidak ingin, ini lepas begitu saja kerja keras dan kebersamaan luar biasa bagus, kemudian rusak hanya karena orang-orang tidak bertanggungjawab, kita tidak ingin itu," demikian Edhy. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi