ASITA Bali Diharapkan Manfaatkan Peluang Pariwisata Papua Barat

Selasa, 06 Desember 2016 : 09.16
Pesona Pegunungan Arfak Papua Barat (foto :google)
KUTA -  Kalangan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia di Bali diharapkan memanfatkan peluang pariwisata di Papua Barat yang memiliki keindahan sejumlah obyek wisata seperti pegunung dan laut menawan juga adat budaya masyarakatnya yang belum banyak dikujungi wisatawan.

Guna lebih mengenalkan pesona wisata tersebut, rombongan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan kalangan industri pariwisata Papua Barat, memaparkannya kepada kalangan operator perjalanan wisata atau travel agen di Bali Senin 5 Desember 2016 malam.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat Edi Sumarianto menyatakan, banyak obyek wisata yang memiliki data tarik yang bisa dikemas sebagai perjalanan wisata oleh para travel agen. Dibandingkan dengan Bali, Papau Barat masih belum sepopuler dalam pengelolaan paket perjalanan wisata.

Karenanya, kedatangan rombongan mereka, tak lain untuk lebih mengenalkan potensi wisata Papua Barat di Bali seperti cagar alam pegunungan Arfak, Gunung Batok dan lainya.

"Semua itu tergantung anggota ASITA di sini, apakah hanya fanatik untuk menjual wisata Bali, atau punya perhatian untuk melirik daya tarik lain yang bisa dikelola dikreasikan dengan baik oleh ASITA dan anggotnya," sambungnya dalam kegiatan yang dihadiri Ketua ASITA Bali Ketut Ardana dan tokoh pariwisata seperti Al Purwa.

Edi melanjutkan, kalangan agen perjalanan wisata mestinya memiliki kesempatan dan peluang untuk mengenalkan paket wisata kepada wisatawan ke luar Bali seperti di Papua Barat. Diharapkan, dengan gencarnya atau upaya Association of Indonesian Travel Agent (ASITA) mengenalkan obyek wisata selain Bali, akan berdampak positif bagi destinasi lainnya seperti Papua Barat.

"Paling tidaak target ASITA yang selama ini hanya ada satu dua yang mengoperasikan paket wisata ke sana bisa meningkat 20 sampai 30 persen," tandasnya.

Diakui Edi, tidaklah mudah, bagi agen perjalanan wisata untuk menjual paket wisata di Papua Barat karena mereka mesti jeli melihat peluang itu. Apalagi, mereka belum punya pengalaman di obyek wisata tersebut sehingga mau tidak mau harus pergi ke sana melakukan survei.

"Kita lebih mengembangkan quality torism, bukan massa tourism, jadi trvel agent harus mengerti mempelajari dahulu bagaimana regulasi dan akses untuk datangkan wisatawan ke Papua Barat," tegasnya lagi. Meski berharap bisa mendatangkan wisatawan lebih banyak, lewat peran travel agen lainnya, namun kata Edi, Papua Barat tidak terlalu mengejar jumlah.

Pasalnya, kebijakan daerah dan stakholder setempat, tidak mengembangkan mass tourisma atau jumlah wisatawan.

Karena pertimbangan kapasitas obyek-obyek wisata di Papua Barat sehingga jumlah wisatawan yang datang dibatasi. Karena semakin banyak wisatawan yang datang bersamaan tentunya akan memberikan tekanan pada ekosistem wilayah tersebut.

Ketua ASITA Bali  Ardana menyambut baik kegiatan tersebut untuk lebih mengembangkan promosi dan strategi pemasaran pariwisata bersama antara Papua Barat dan Bali.

"Ya kita harapkan, peluang ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh anggota ASITA," tandansya. Kegiatan juga diisi dengan pertemuan bisnis antara perusahaan agen perjalanan wisata dengan pelaku industri pariwisata Bali dan Papua Barat. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi