Panen Padi Melimpah, BI Bali Harapkan Alih Fungsi Lahan Ditekan

Rabu, 02 November 2016 : 19.58
GIANYAR - Hasil panen padi di areal pertanian Subak Pulagan Kabupaten Gianyar Bali yang mengembangkan klaster padi metode SRI (system of rice intensification) yang dikombinasi dengan sistem tanam Jajar Legowo berbasis MA-11 dengan produksi melimpah.

Klaster padi ini dikembangkan para petani di di Kelompok Tani, Ternak dan Ikan Pulagan Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar.

Wilayah ini, mendapatkan predikat Warisan Budaya Dunia dari UNESCO, beras hasil lahan pertaniannya juga dianggap suci dan digunakan untuk upacara di seluruh wilayah Bali.

Sebelum awal tahun 2015 petani Kelompok Pulagan masih menggunakan bahan kimia secara luas dalam budidaya pertanian padinya baik untuk pupuk maupun obat pembasmi hama semua berbahan kimia.

Penggunaan pupuk dan pestisida kimia selama bertahun-tahun telah menyebabkan produktivitas lahan semakin menurun dan kondisi ini diperparah dengan beberapa unsur hayati seperti belut, cacing tanah dan kunang-kunang semakin menghilang.

"Kondisi tersebut merupakan indikasi bahwa unsur hara tanah telah sangat jauh berkurang," kata Kepala Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Causa Iman Karana Selasa (2/10/2016).

Hilangnya beberapa ciri khas dan kebiasaan tradisional alami tersebut dikhawatirkan dapat mengancam status Warisan Budaya Dunia.

Karenanya, dalam upaya pengendalian inflasi dan pengembangan ekonomi daerah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali pada bulan Maret 2015 telah mengembangkan klaster padi di wilayah itu,

Dengan metode SRI (system of rice intensification) yang dikombinasi dengan sistem tanam Jajar Legowo berbasis MA-11.

Akhirnya, dengan pendampingan BI Bali, Dinas Pertanian Gianyar dan Kodim 1616/Gianyar, Kelompok Tani Pulagan telah berhasil meningkatkan hasil panen dan mengembalikan kesuburan serta unsur hara tanah.

Sebagaimana terlihat dari meningkatnya hasil panen padi varietas cigeulis secara bertahap dari sebelumnya rata-rata 5,5 ton/Ha meningkat menjadi rata-rata 7,8 ton/Ha pada tahap I kemudian meningkat menjadi rata-rata 9,4 ton/Ha pada tahap II.

"Yang lebih utama adalah pulih kembalinya unsur hara tanah dan ekosistem sawah seperti cacing dan belut," sambungnya.

Iman menyampaikan apresiasi atas dukungan Bupati Gianyar dan komitmen SKPD terkait di Kabupaten Gianyar, Kodim 1616/Gianyar serta anggota Kelompok Tani, Ternak dan Ikan Pulagan dalam mensukseskan program pengembangan klaster ketahanan pangan komoditi padi.

Pragram yang  dimulai sejak bulan Maret tahun 2015 sebagai upaya pengendalian inflasi dan mendukung program swasembada pangan di Provinsi Bali serta program Bali Go Green & Clean dan Go Organic.

Ke depan, diharapkan bisa direplikasi di wilayah lain di Gianyar bahkan di Kabupaten lain di Bali dan bersinergi dalam RKP SKPD terkait di tahun 2017.

Pihaknya berharap, agar masyarakat, pemerintah dan semua pihak bisa mempertahankan menjaga areal lahan poduktif pertanian itu bisa dipertahankan dari ancaman alih fungsi lahan.

"Saya kira perlu dibuat aturan yang bisa melindungi areal lahan produktif pertanian dari alih fungsi lahan dengan sanksi yang tegas pula bagi yang melanggar," demikian Iman. (rhm)


Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi