Tangani Kasus Kekerasan Jurnalis di Medan, AJI Desak Transparansi TNI

Minggu, 23 Oktober 2016 : 14.59
ilustrasi
JAKARTA- Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Suwarjono meminta TNI Angkatan Udara lebih transparan dalam proses penyidikan kasus kekerasan terhadap jurnalis yang melibatkan aparat TNI AU di Medan, Sumatera Utara.

Dengan sikap transparan itu, akan menjadi cerminan kesungguhan TNI AU menyelesaikan kasus itu.

“Saya menilai tidak ada transparansi dalam perkembangan penyidikan kasus kekerasan jurnalis oleh anggota TNI AU di Medan,"  tegas Suwarjono dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (23/10/2016) di Jakarta..

Sudah dua bulan lebih sejak kasus ini terjadi, tidak ada perkembangan yang signifikan. TNI AU tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus yang melibatkan anggotanya.

Padahal, semua bukti sudah lengkap dan saksi sudah memberikan keterangan.

Kasus kekerasan dilakukan anggota TNI AU itu terjadi di Medan, Senin (15/8/2016) lalu.

Jurnalis peliput demonstrasi warga dipukuli anggota TNI AU yang saat itu terlibat bentrok dengan pengunjuk rasa. Setidaknya dalam peristiwa ini, enam jurnalis terluka.

Korban didampingi Tim Advokasi Pers Sumatera Utara melaporkan kasus kekerasan ke Polisi Militer (POM) Angkatan Udara Soewondo, yang langsung menanganinya.

Pelaku penyerangan melanggar UU no.40 tahun 1999 tentang pers, karena saat peristiwa itu berlangsung, korban sedang melakukan aktivitas jurnalistik.

Setelah melakukan pemeriksaan saksi, POM TNI AU Soewondo menetapkan dua anggota TNI AU sebagai tersangka. Uniknya, POM TNI tidak bersedia menyebutkan identitas tersangka.

Ketua AJI Medan Agoez Perdana melihat adanya indikasi menutup-nutupi kasus itu.

"Sikap POM Lanud Soewondo mengindikasikan ada sesuatu yang ditutup-tutupi, kalau memang semua sesuai dengan fakta yang ada, buka saja," jelas Agus.

Pengungkapan identitas tersangka secara terbuka, kata Agoez, menjadi mekanisme publik untuk melakukan kontrol atas kasus itu. Sekaligus mempercepat proses hukum ke ranah peradilan militer.

“Menutupi identitas tersangka justru tidak sesuai dengan UU KIP, karena TNI AU adalah lembaga publik, apalagi kasus kekerasan ini melibatkan pihak lain dan bukan termasuk yang dikecualikan,” kata Agoez.

Berdasar catatan AJI Medan, setidaknya ada enam jurnalis yang menjadi korban penyerangan TNI AU. Mereka adalah Array Argus (Harian Tribun Medan), Teddy Akbari (Harian Sumut Pos), Fajar Siddik (Medanbagus.com), Prayugo Utomo (Menaranews.com), Andri Safrin (MNC News) dan DE (Matatelinga.com). DE adalah jurnalis perempuan satu-satunya yang mengalami pelecehan seksual. (des)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi