Korban Arak Metanol di Bali Masih Enggan Melapor

Jumat, 21 Oktober 2016 : 23.45
Kepala Bidang Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr Ni Made Laksmiwati 
DENPASAR -  Lantaran malu atau karena faktor psikologis lainnya membuat para korban arak oplosan enggan melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada petugas sehingga sampai saat ini sulit dilakukan pendataan atau angka secara pasti jumlah para korbannya.

Kepala Bidang Pelayanan Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr Ni Made Laksmiwati mengakui, sebenarnya cukup banyak korban arak oplosan dari bahan metanol. Namun umumnya, mereka tidak mau melaporkan diri menjadi korban.

Yang terjadi justru keengganan masyarakat melaporkan jika ada anggota keluargnya menjadi korban arak metanol.

Apalagi, masih banyak masyarakat yang tidak bisa, mengenali ciri-ciri korban arak metanol sehingga sering dipandang karena sebab penyakit lainnya.

"Jadi, kalau ada korban kemudian muntah-muntah, dikatakan karena penyakit lain, meskipun indikasinya sebagai korban arak metanol," sambungnya Jumat 21 Oktober 2016.

Pemerintah tidak memiliki data berapa sebenarnya jumlah korban arak metanol sehingga hal itu menjadi kendala untuk penanganan dan pencegahannya.

Pada bagian lain, Laksmi menjelaskan, biasanya bahan dipakai mengoplos adalah methanol. Metanol sering disalahgunakan untuk bahan pembuat minuman keras.

"Itu sangat berbahaya," katanya mengingatkan.

Pada umumnya, methanol digunakan sebagai pelarut atau bahan bakar dan bahan pembersih lantai dan rumah tangga sehingga sangat beracun jika diminum.

Jika ada yang keracunan methanol atau etanol untuk pertolongan pertama segera minumkan susu, susu apapun, karena itu penawar racun.

Kemudian, bisa ditangani dengan dibawa ke rumah sakit terdekat. Minuman oplosan ini sering menyasar kalangan remaja.

Kondisi itu terjadi lantaran dampak pergaulan yang buruk atau mereka sekedar ingin mendapat pengakuan karena kaum muda sifatnya selalu penasaran akan sesuatu yang baru.

Dalam kaiatan untuk edukasi dan sosialisasi tentang bahaya mibum oplosaan bagi generasi muda, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM), Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana(Unud) bekerja sama dengan LIAM Foundation dan Methanol Institute menyelenggarakan Workshop.

Workshop mengambil tema "Generasi Muda Bebas Dari Minuman Oplosan Untuk Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia," di Fave Hotel Tohpati Denpasar.

Kegiatan dihadiri para guru di PGRI Bali di mana mereka sudah banyak yang mengetahui bahaya metanol karena berhadapan langsung dengan siswa sehari-hari.

Mereka diharapkan bisa langsung sosialisasi kepada siswa sehari-hari di sekolah, terutama soal bahaya minuman oplos dengan menggunakan metanol. (rhm)

Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi