Inilah 7 Inspirator Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

Sabtu, 29 Oktober 2016 : 14.07
JAKARTA - Setelah tujuh bulan (sejak Maret hingga Oktober 2016) mencari dan menyeleksi, akhirnya PT Astra International Tbk menemukan tujuh ‘mutiara’ terbaik yang berasal dari
wilayah barat hingga timur Indonesia.

Ketujuh yang lolos dalam proses penjurian Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2016 tersebut, pada hari ini (27/10) menerima penghargaan dalam acara di kantor Astra International.

Mereka dinilai memiliki sumbangsih yang bermanfaat untuk masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut tentunya sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa.

Sejalan semangat Sumpah Pemuda, hari ini kita kembali menyaksikan hadirnya sosok-sosok pejuang muda dari pelosok nusantara.

"Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan oleh para pemuda ini, Astra senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa,” tutur Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto.

Juri SATU Indonesia Awards 2016 Prof. Emil Salim menyatakan bahwa SATU Indonesia Awards tahun ini sudah lebih baik dari sebelumnya, dilihat dari jumlah pendaftar yang meningkat dan kualitas yang semakin baik.

“Di tahun-tahun berikutnya akan lebih baik lagi jika persebaran pada pendaftar lebih merata
dari daerah-daerah yang semula belum pernah masuk,” tambah Emil.

Para pemuda ini telah bekerja secara nyata dalam lima bidang yang dinilai Astra dan sejalan dengan kontribusi sosial yang dilaksanakan Astra, yaitu Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan, Kesehatan, dan Teknologi, baik dalam kategori perorangan maupun kelompok.

“Potensi para pemuda sekarang ini jauh lebih menjanjikan karena didukung teknologi informasi yang kian berkembang sehingga mampu memberikan nilai tambah atas aktivitasnya.

"Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana SATU Indonesia Awards mampu menjadikan kegiatan para pemenang ini menjadi suatu gerakan berskala nasional,” ujar Juri SATU Indonesia Awards 2016 Tri Mumpuni.

Ketujuh pemenang berasal dari Aceh Hingga Jeneponto dimana proses seleksi dimulai dari jenjang administrasi, penilaian program, verifikasi, hingga presentasi di hadapan dewan juri yang sangat berpengalaman di bidangnya, yaitu: Prof. Emil Salim, Prof. Nila Farid Moeloek, Prof. Fasli Jalal, Tri Mumpuni dan Dr. Onno Purbo.

Dari 2.341 peserta yang telah mendaftar, inilah tujuh ‘mutiara bangsa’ terpilih yang telah
menyebarkan inspirasi bagi sekitarnya:

1. “Sang Seniman Nasionalis”, Zainul Arifin – Lumajang, Jawa Timur Zainul Arifin (27 tahun) berupaya menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalis dan cinta  terhadap kekayaan bangsa melalui seni budaya serta kearifan lokal. Upayanya ini dilakukan dengan menggagas sebuah program sejak 10 November 2007 yang diberi nama “Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah”.

Program Zainul ini ditujukan untuk dapat menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar. Warga diberdayakan untuk dapat membangun destinasi wisata desa. “Jadilah  orang Indonesia yang berkearifan lokal, sehingga Anda tahu bahwa nusantara memang benar-benar Bhineka Tunggal Ika. Yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan,” ujar Zainul.

Tahun ini, ada dua penerima apresiasi bidang kewirausahaan. Keduanya terpilih karena sama kreatifnya dalam upaya memajukan usaha kecil, mikro, dan menengah di Indonesia, dan dewan juri pun memberikan penilaian terbaik kepada keduanya.

2. “Wirausahawan Kreatif dari Banjarmasin”, Muhammad Aripin – Banjarmasin, Kalimantan Selatan Muhammad Aripin (29 tahun) berbisnis dengan mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomis, yang melibatkan anak jalanan, anak-anak korban narkoba dan anak-anak putus sekolah. Akhir tahun 2015, ia mendirikan Yayasan Rumah Kreatif untuk mewadahi kegiatan yang meliputi usaha di bidang teknik, kerajinan tangan dan seni budaya.

Saat ini sudah ada sekitar 85 anggota usia sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Produk Yayasan Rumah
Kreatif dipasarkan melalui berbagai saluran, di antaranya melalui Dewan Kerajinan Nasional
Daerah (Dekranasda), hingga terjual ke mancanegara melalui media online.

3. “Pemberdaya Gula Semut dari Banyumas”, Akhmad Sobirin – Banyumas, Jawa Tengah Akhmad Sobirin (29 tahun) memelopori dan mengajak masyarakat di daerahnya yang selama ini memproduksi gula kelapa untuk memproduksi gula semut setelah mendapat peluang pasar ekspor. Para petani diberikan edukasi tentang gula semut, serta proses produksinya yang jauh lebih sulit dibanding proses produksi gula biasa atau gula blok.


4. “Pahlawan Lembah Hijau Rumbia”, Ridwan Nojeng – Jeneponto, Sulawesi Selatan Sejak 2010, Ridwan Nojeng (32 tahun) merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di tempat asalnya di Desa Tompobulu, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Dengan pupuk organik hasil produksinya, ia melakukan penghijauan. Warga pun dimotivasi untuk ikut serta dalam upaya mengembangkan daerah tempat tinggalnya.


5. “Laskar Pencerah dari Pasuruan”, Yoga Andika – Pasuruan, Jawa Timur Yoga Andika (27 tahun) yang memiliki kepedulian pada edukasi hidup sehat mencetuskan berdirinya “Posyandu Remaja” di Desa Tosari, Pasuruan, Jawa Timur. Materi penyuluhan meliputi pernikahan dini, bahaya seks pranikah, efek negatif miras dan nikotin, budaya hidup sehat serta upaya menjaga kebersihan lingkungan yang ditujukan untuk remaja usia
SMP dan SMA.

6. “Penggagas Gamelan Elektronik dari Garut”, Dewis Akbar – Garut, Jawa Barat Dewis Akbar (34 tahun), lulusan ilmu computer Institut Teknologi Bandung (ITB) ini adalah pembimbing sekaligus pengajar dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk anak sekolah. Bersama Budi Arifin, teman satu sekolahnya dulu, ia membangun sebuah lab “Komputer Mini” Raspberry P.i., yang merupakan wadah bagi anak-anak yang ingin lebih menggali secara dalam manfaat serta kegunaan TIK.


7. “Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang”, Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia – Banda Aceh, Aceh Bersama 10 mahasiswanya, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Ihsan Rusydi, mengembangkan teknologi budidaya tiram bermodalkan ban bekas, bernama rumoh tiram sebagai tempat melekatnya benih tiram.

Hasil temuan kelompok Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia ini sangat membantu masyarakat Kampung Tibang, Banda Aceh, karena tidak lagi harus berendam di bawah terik matahari atau menginjak dan memegang tajamnya koloni tiram ketika beternak dengan cara konvensional.

Petani pun bisa menghasilkan jumlah dan ukuran tiram yang lebih besar, sehingga punya waktu lebih untuk membuat produk olahan tiram sehingga nilai ekonominya
lebih maksimal.

Sepanjang perjalanannya sejak tahun 1957, Astra senantiasa mendedikasikan karyanya untuk kemajuan bangsa Indonesia, sejalan dengan filosofi perusahaan yang tertera dalam Catur Dharma.

Dalam rangka menuju perayaan Hari Ulang Tahun ke-60 Astra pada tahun 2017, Astra mengusung tema “Inspirasi 60 Tahun Astra” yang digambarkan melalui produk dan layanan karya anak bangsa, sumber daya manusia yang unggul, serta kontribusi sosial yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara. (nad)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi