Ginjal Membengkak, Hidup Penjual Canang Ini Memprihatinkan

Rabu, 26 Oktober 2016 : 22.08
JEMBRANA - Kondisi Ni Wayan Jendri (49) sangat memprihatinkan hanya bisa terbaring beralas kasur buntut sambil meringis menahan sakit akibat pembengkakan pada ginjalnya.

Jenderi tinggal di rumah reot, tebuat dari gedeg bambu yang sudah compang-camping dan berlantai tanah yang becek karena hujan akibat atap genting gubuknya bocor. Itupun tanah yang didiami milik orang lain.

Ibu empat anak penjual canang sari yang tinggal di Lingkungan Tinusan Kauh, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, Jembrana ini sejak satu tahun lalu didiagnosa oleh dokter menderita sakit pembengkakan pada ginjalnya.

Sejak sakit, tidak bisa lagi menjual canang sari. Untuk makan sehari-hari dirinya dan tiga anaknya karena satu anaknya sudah menikah termasuk untuk berobat.

Dia hanya mengandalkan penghasilan Wayan Gejer (54), suaminya.

Gejer bekerja sebagai buruh serabutan yang lebih banyak nganggurnya. Kini Gejer kebingungan untuk biaya pengobatan istrinya. Karena meskipun telah memiliki KIS, terkadang istrinya harus berobat alternatif karena tidak kuat menahan sakit.

"Kalau penyakitnya kambuh, saya kebingungan. Mau berobat alternatif tidak ada biaya. Jangankan untuk biaya berobat alternatif, untuk makan sehari-hari juga susah,” tutur Gejer lirih disamping istrinya yang terbaring lemas, Rabu (26/10/2016) sore.

Jika harus dibawa ke rumah sakit, Gejer mengaku tidak memiliki biaya perjalanan. Apalagi jika harus ofname, Gejer kebingungan biaya menunggu pasien.

Berdasar pemeriksaan dokter RSUD Negara, istrinya diharuskan untuk menjalani operasi jika ingin sembuh dari penyakitnya. Bahkan istrinya dari RSUD Negara, istrinya di rujuk ke RSUD Tabanan untuk operasi.

"Kami sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit Tabanan, itu biayanya tidak sedikit. Tapi itu biaya perjalanan kalau biaya berobat di rumah sakit ngak bayar,” imbuh Gejer.

Hasil pemeriksaan di RSUD Tabanan menurut Gejer, istrinya telah mendapat jadwal operasi. Namun jadwal tersebut harus menunggu dua sampai tiga bulan lagi.

"Saya tidak mengerti kenapa jadwal operasinya masih sangat lama, mungkin karena kami pakai kartu jaminan kesehatan dari pemerintah atau gimana. Saya kuatir ada apa-apa dengan istri di rumah,” keluh Gejer

Kekhawatiran Gejer terbukti, dua hari sepulang dari RSUD Tabanan, istrinya kambuh dan dilarikan ke RSUD Negara. Istrinya sempat diofname selama lima hari dan dua hari lalu sudah diizinkan pulang.

Kini, Gejer binggung memikirkan keadaan istrinya karena jadwal operasinya masih lama. Juga kebingungan memikirkan rumahnya yang nyaris roboh serta biaya sekolah anaknya yang paling kecil.

"Anak saya empat orang, yang tertua laki-laki sudah tamat SMA tapi masih nganggur. Sedangkan anak ke dua perempuan sudah menikah dan anak ketiga perempuan baru saja tamat SMA, belum dapat kerjaan. Hanya anak yang keempat laki-laki masih kelas satu SMP,” kata Gejer.

Beruntung, beban hidupnya sedikit teratasi sebab setiap bulan dapat bantuan raskin dari pemerintah (KN-2)
Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi