Berikan Kepastian Investasi, Menteri Yasonna Tegaskan Indonesia Serius Tangani HAKI

Minggu, 09 Oktober 2016 : 02.03
NUSA DUA- Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly menegaskan lewat kebijakan dan regulasi yang dibuat pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius terhadap penanganan isu-isu Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam memberikan jaminan kepastian investasi di Tanah Air.

Hal itu disampaikan Yasonna saat memberikan pidato pada pembukaan pertemuan dunia “The 66th APAA Council Meeting – Asian patent Attorneys Association (APAA)” di Bali International Convention Center (BCC) Hotel Westin Nusa Dua, Sabtu (8/10/2016) malam.

Pertemuan digelar di Bali membahas isu-isu penting dan ajang bertukar informasi antar negara anggota dalam memberikan perlindungan terhadap hak cipta atau hak paten.

Petemuan digagas Asian Patent Attorney Association (APAA) yang diketahui organisasi non-pemerintah yang didedikasikan untuk mempromosikan dan meningkatkan perlindungan Kekayaan Intelektual di kawasan Asia (termasuk Australia dan Selandia Baru).

Ditegaskannnya, perlu regulasi yang lebih mengatur memberikan kepastian bagi investasi di Indonesia.

Di pihak lain, Indonesia dipandang masih banyak terjadi berbagai pelanggaran hak cipta atau hak paten.

Untuk itu, aparat penegak hukum harus bertindak tegas, menindak para pelaku pelanggaran hak cipta.

"Regulasi sudah diperbaiki, lewat pertemuan seperti ini, Indoneia siap bekerjasama untuk meningkatkan penanganan terkait isu HAKI," tegas Yasonna.

Lewat pertemuan ini pula, masing-masing peserta negara anggota bisa memberikan masukan dan pandangannya.

Presiden Asian Patent Attorney Association Mr. Patrick Y. Kim hadir dalam seremonial yang dihadiri ratusan delegasi berbagai negara di Asia itu

Presiden APAA, Patrick Kim menyatakan, terkait kebijakan HaKI di Indonesia, ia menilai Indonesia sudah berada di jalur yang tepat untuk melakukan perbaikan.

Sebagai negara yang sedang berkembang, kata dia, Indonesia bisa memperoleh banyak masukan dari APAA terkait HaKI.

Diketahui, APAA didirikan bulan Desember 1969 dan berpusat di Jepang serta memiliki sekitar 2.315 Anggota yang mewakili 18 Negara yaitu: Australia, Bangladesh, India, Indonesia, Jepang, Hong Kong, Korea, Macau, Malaysia, Myanmar, New Zealand, Pakistan, Filipina, Singapura, Srilanka, Taiwan, Thailand, Vietnam dan Anggota Perorangan dari Negara Buthan, Brunei, Kambodia, Laos, Mongolia dan Nepal.

APAA Grup Indonesia terpilih menjadi Tuan Rumah dalam menyelenggarakan “The 66th APAA Council Meeting – Asian patent Attorneys Association (APAA)” untuk pertama kalinya di Bali, pada 8–11 Oktober 2016.

Indonesia Negara ke-13 yang menyelenggarakan Council Meeting dari APAA setelah lebih dari 60 kali diselenggarakan secara bergantian di berbagai negara lainnya.

Seluruh Anggota APAA Grup Indonesia adalah 73 orang, terdiri dari praktisi hukum dan Konsultan Kekayaan Intelektual.

“The 66th APAA Council Meeting – Asian Patent Attorneys Association (APAA)” dihadiri oleh kurang lebih 1590 Peserta yang mewakili 17 Negara Peserta dan 6 Negara, Peserta terdiri dari pengacara di bidang Kekayaan Intelektual, khususnya Paten, pemerhati dan pengamat Kekayaan Intelektual dari hampir seluruh negara di dunia, mewakili kurang lebih 50 Negara.

Negara itu dari kawasan Asia, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin dan Afrika. Acara dihadiri pula oleh 367 Observer (Pengamat) dari Eropa, Amerika, Afrika, Inggris, Perancis, Jerman, Switzerland, Rusia, Kanada, Spanyol, Nigeria, Meksiko, Belanda, dan sebagainya.

Penyelenggaraan “The 66th APAA Council Meeting – Asian patent Attorneys Association (APAA)” mencakup kegiatan lokakarya, diskusi, women in APAA, dan kegiatan lainnya, yaitu :- Kekayaan intelektual standing commite meeting.

Kemudian,  Anti-counterfeiting Committee, dengan topik bahasan “Plain Packaging Regulation: Legal Issues and Concerns.

Selanjutnya, Copyright Committee, dengan topik bahasan “Copyright Works in the Age of Virtual Reality” to What Extend Does, and Should, Copyright Protect Solely Virtual Creations? What Copyright Law Should Apply, it at all?”

Dibahas pula, Design Committee, dengan topik bahasan “Designs: Test for Infringement, acts that Constitute Infringement and Remedies”

Selain itu, Emerging IP Rights Committee, dengan topik bahasan “The Protection of Traditional Knowledge”
- Patent Committee, dengan topik bahasan “Scope of Trade Dress Protection – To what Extent is Trade Dress Protection in Each Jurisdiction”.

Ada pula. Workhsop terdiri atas 2 jenis materi, yaitu: 1) “Social Media: A Playground for Creators where Sharing is the Norm?”; and 2) “The Spoils of Smartphone Patent Wars: Innovation or Stagnation?”

Peserta membahas Asian Intelectual porperty forum akan dibahas Laporan khusus berdasarkan hasil riset dan evaluasi yang dilakukan oleh Anggota Komite dan perubahan-perubahan hukum di bidang Kekayaan Intelektual serta putusan-putusan Pengadilan yang signifikan.

Sedangkan cultural night atau “Malam Budaya” pada tanggal 9 Oktober 2016 menghadirkan para pelaku ekonomi kreatif untuk mempromosikan dan memasarkan produk-produk seni budaya dalam bentuk wisata belanja, kuliner, pameran dan pertunjukan berupa tarian serta musik tradisional. Ekonomi kreatif di Indonesia, salah satunya Bali berpotensi memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional. (rhm)


Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi