Berfikir Positif Modal Wisnu Bawa Tenaya Jalani Hidup

Rabu, 05 Oktober 2016 : 21.05
DENPASAR - Mantan Pangdam IX/Udayana Meyjen (Pur) TNI Wisnu Bawa Tenaya kini menjalani hari-harinya sebagai warga sipil meski begitu tekad dan semangatnya sebagai seorang yang dididik dari militer tak pernah berhenti senantiasa bertanggungjawab terhadap masyarakat bangsa dan negara. Berfikir positif menjadi bekal putra Bali kelahiran Mengwi Kabupaten Badung, dalam menapaki hidupnya selama ini.

Tentu tidak mudah bagi pria yang mulai populer disapa WBT, dalam proses menggapai cita-cita hingga ke puncak karir militernya sebagai Pangdam Udayana. Berbagai tempaan hidup, hampir di seluruh nusantara pernah dijalaninya dengan baik.

"Dengan semangat menyamaberaya, kita ini menjadi satu, konsep dasar di Bali itu, bantu ayah lindungi ibu," ucapnya dalam sebuah perbincangan di kediamannya di Denpasar.

Konsep dasar Bali itulah, yang terus diperjuangkan di manapun berada. Baik kala itu, ketika dinas militer maupun setelah purna tugas.

Menurutnya, dalam mengarungi hidup, pepetah luluhur yang senantisa relevan di manapun bertugas.

"Dimana bumi kita dipijak, di situ langit dijunjung," ucap jenderal bintang dua yang dikenal low profile ini,

Pendek kata, orang hidup harus mempu berdapatasi di mana lingkungan berada.

WBT punya jurus jitu dalam membangun hubungan, dengan siapapun dari berbagai kalangan. Intinya, berkomunikasi secara baik dengan semua orang.

"Berfikirlah secara positif dalam hidup," katanya menegaskan.

Bagi WBT, dengan berkomunikasi maka semua persoalan bisa diselesaikan dengan baik. Komunikasi itu, baik secara langusng maupun tidak langsung.

Hanya saja, bagi WBT, dirinya lebih memilih dan terus berusaha agar bisa berkomunikasi langsung dengan setiap orang.

"Dengam Kontak langsung, kita ucapkan salam, maka hati kita bertemu, satu hati, kemudian tumbuh kepercayaan trust," tutur mantan Danjen Kopassus itu,

Karenanya, sesuai namanya WBT, yang juga bisa diartikan "We Built Trust" atau dirinya ingin membangun kepercayaan.

Kepercayaan itu sangatlah penting apalagi bagi seorang pemimpin yang mendapat kepercayaan masyarakat atau rakyat, tentu memiliki dukungan menuju keberhasilan.

Pria yang memiliki jiwa seni dan peduli dengan adat budaya khususnya masyarakat Bali itu, sudah kenyang dengan tempaan hidup terlebih saat dirinya bertugas.

Sekedar mengenang ketika tahun 1998 aksi masyarakat menggulingkan pemerintahan Orde Baru, WBT yang kala itu dinas di Kopassus di Solo Jawa Tengah, mampu memimpin pasukan elit TNI AD itu hingga tetap bersama dekat rakyat.

"Ya saya selalu katakan, lempar senyum, lempar senyum ke rakyat," tukasnya. Hasilnya, cukup efektif karea aksi massa berhasil diredam dengan sikap humanis dan kedekatan antara TNI dengan rakyat yang terus dibangun,

"Lempar senyum, berfikir positif, apalagi kita sebagai pemimpin rakyat, kita harus dekat ngobrol dengan mereka," tandas alumnus Akmil 1981 itu,

Baginya, manusia tidak ada yang sempurna atau hebat melainkan dia harus belajar mendengar. Mendengarkan kebenaran dari manapun berasal. Dari atas, bawah, samping kanan kiri, belakang dan depan, harus didengar.

"Kita semua memiliki tanggungjawab untuk mencerdaskan masyarakat sehingga hidup mereka bisa  sejahtera," tutupnya. (rhm)

Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi