Usung Lakon "Jodar", Teater Kami Tampil di Bali

Jumat, 09 September 2016 : 00.16
DENPASAR - Lakon “Jodar” yang mengangkat tema di seputar problematik sehari-hari yang dialami oleh masyarakat akan ditampilkan Teater Kami, dalam pagelaran di Bali.

Sebagai kelompok teater asal Jakarta, Teater Kami tampil dalam yang teks dramatiknya ditulis Harris Priadie Bah ini berlangsung Sabtu (10/9/2016), malam di Bentara Budaya Bali (BBB), Ketewel, Gianyar.

Lakon “Jodar” mengangkat tema di seputar problematik sehari-hari yang dialami oleh masyarakat umumnya, di mana nilai-nilai keagungan keluarga kian tertepis pupus. Anak tak lagi patuh dan bakti kepada orang tua, berlaku kasar, dan kurang ajar. Bahkan belakangan bertindak durhaka dengan menolak merawat orang tua mereka sendiri yang kian renta dan uzur.

Menurut Harris Priadie Bah,, pertunjukan ini coba mengajak sesiapa pun yang pernah menjadi anak dari ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkannya, untuk kembali mengasihi, menghormati dan memberikan waktu serta perhatian terhadap ibunya.

"Yang mana ini boleh jadi tecermin melalui sepenggal kalimat “Duka Ibu Adalah Duka Semesta” yang tertera bersama tajuk lakon ini.

Melalui pemanggungan "Jodar" yang sempat ditampilkan di Bentara Budaya Jakarta pada Juni 2016, Teater Kami mengedepankan satu ragam pertunjukan yang menekankan kedalaman akting para aktornya, tata panggung yang sederhana, serta bertumpu pada kekuatan naskah.

Hal ini bisa jadi merupakan sebentuk upaya menimbang kembali dan mengkritisi pertunjukan teater modern yang kini cenderung hadir dengan panggung dan tata visualnya yang mewah gemerlap serta berjarak dengan keseharian masyarakat.

Para Jodaris kali ini antaranya ada Ribkan Maulina Salibia, Umi Endut, Rezqy Babeh. Sebagai penata lampu Eggy Iskandar, penata sound Salto Karakterika Bah, pengerja panggung Salvo Genesis Salibia, dan pembimbing panggung Ragil Biru serta pewujud Harris Priadie Bah.

Kelompok Teater Kami (KTK) sendiri adalah teater yang berdiri pada Juli 1989. Merupakan kelompok yang mempunyai wilayah kreatifitas bebas tanpa batas.

Teater ini terbuka dan tidak berpatok pada suatu tema dan tidak terikat pada suatu bentuk; ada eksperimental, realis, absurd, dan yang lain.

Dikatakan, Teater ini memiliki tradisi untuk memanggungkan teks dramatik yang baru dan belum pernah di pentaskan oleh kelompok teater lainnya di Indonesia.

Menurut Afrizal Malna, seorang penyair, penulis drama dan pengamat teater, ciri khas lain dalam bentuk pemanggungan Kelompok Teater Kami adalah mengangkat tema realis dalam bentuk yang imajinatif.

Kelompok ini, dibangun dengan kesadaran untuk melakukan semacam interpretasi baru terhadap karya-karya yang telah dikenal secara umum serta mempresentasikan problem-yang terjadi di masyarakat ke atas panggung dengan cara yang kreatif dan inovatif.

Kelompok ini juga melakukan upaya-upaya penggalian yang keras terhadap kemungkinan-kemungkinan artistik dan estetik dalam wilayah teater kontemporer, “ungkap Harris yang pernah menampa ilmu teater di di Sekolah Teater dan Film (STF) yang dikelola oleh Gerson Poyk, Motinggo Busye, Leon Agusta, Adi Kurdi, Remi Silado dan kawan-kawan (1986).  (gek)

Berita Terbaru

Komentar Anda

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi